Sebuah Apresiasi Kritis terhadap Spiritual Quotience
Sebagai sebuah produk keingin tahuan manusia Barat Modern untuk mengungkap misteri hakikat kemanusiaan —khususnya kecerdasannya —, SQ memberikan kesegaran baru di tengah-tengah pendekatan sains yang selama ini memisahkan diri dari perspektif agama. Bukti-bukti saintifik dan kajian-kajian kemanusiaan versi agama-agama Timur menjadikan menjadikan SQ seolah mampu mengharmoniskan persete ruan sains versus agama. Dengan menunjukkan hakikat kemanusiaan versi Esoteris Islam, Barat Pramodern, dan Barat Modern, kita dapat menun jukkan keberatan atas klaim di atas.
PADA pertengahan tahun 2000 dunia pendidikan dan psikologi kita dihenyakkan dengan temuan Barat Modern tentang ukuran kecerdasan manusia yang terbaru, yang mereka sebut SQ, Spiritual Intelligence. Maraknya diskusi tentang SQ tersebut tak pelak lagi ikut melibatkan para tokoh agama, termasuk ulama Islam, hal ini disebabkan penggunaan istilah Spiritual—yang biasanya sangat kental muatan keagamaannya—yang disematkan dalam ukuran kecerdasan tersebut. Benarkah istilah spiritual yang dimaksud oleh tokoh-tokoh SQ semakna dengan pemaknaan versi esoteris agama-agama? Aspek kemanusiaan apakah yang diukur dalam SQ? Apakah ada keterkaitan SQ dengan ukuran-ukuran tashawwuf dalam Islam tentang kesempurnaan manusia?
Apakah SQ itu?
Danah Zohar, salah seorang tokoh yang cukup berhasil mensistematisasikan dan mempopulerkan SQ bersama suaminya Ian Mashall— dalam buku mereka SQ; Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence mendefinisikan SQ sbb:
SQ, our deep, intuitive sense of meaning and value, is our guide ‘at the edge’. SQ is our conscience. We can use SQ to become more spiritually intelligent about religion. SQ takes us to heart of things, to the unity behind difference, to the potential beyond any actual expression. SQ can put us in touch with the meaning and essential spirit behind all great religions. A person high in SQ might practise any religion, but without narrowness, exclusiveness, bigotry or prejudice. Equally, a person high in SQ could have very spiritual qualities without being religious at all. [1]
Para tokoh SQ juga sangat yakin akan kemampuan SQ yang tinggi dapat dipakai untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kemampuan manusia dalam mengungkap misteri dirinya. Lebih lanjut Zohar mengatakan:
We use SQ to reach more fully towards the developed persons that we have the potential to be. Each of us forms a character through a combination of experience and vision, a tension between what we actually do and the bigger, better things that we might do. On the pure ego level we are I-centred, selfish, materially ambitious, and so on. But we do have transpersonal visions of goodness, beauty, perfection, generousity, sacrifice, and so on. SQ help us to out grow our immediate ego selves and to reach beyond to those deeper layers of potentiality that lie hidden within us. It helps us to live life at deeper level of meaning.
Lebih lanjut dikatakan:
And finally, we can use our SQ to wrestle with problems of good and evil, problems of life and death, the deepest origins of human suffering and often despair. Too often we try to rationalize such problems away, or else we become emotionally swamped or devastated by them. To come into full possession of our spiritual intelligence we have at some time to have seen the face of hell, to have known the possibility of despair, pain, deep suffering and loss, and to have made our peace with these. [2]
Hidup yang lebih bermakna akan senantiasa melingkupi orang-orang yang mengembangkan kemampuan SQ-nya secara optimal.
Untuk mengetahui kapasitas SQ seseorang, Zohar memberikan kuesioner-kuesioner terukur dengan tema-tema berikut: fleksibilitas dalam adaptasi spontan dan aktivitas; kesadaran diri (self-awareness); kemampuan menghadapi dan mengatasi penderitaan; kemampuan menghadapi dan menyelesaikan kenyerian; kualitas yang terinspirasi oleh visi dan nilai, keengganan untuk berbuat yang menyebabkan kerugian yang tidak perlu; kecenderungan untuk melihat segala sesuatu secara holistik; pencarian jawaban yang fundamental atas pertanyaan “Mengapa” dan “Bagaimana?”; hal-hal yang menjadikan seseorang seperti dalam istilah psikologi field-independent. Menurut beliau seseorang yang ber-SQ tinggi berpeluang menjadi pemimpin yang melayani (servant leader)—seseorang yang sangat responsif dalam menggiring orang lain kepada visi dan nilai yang lebih tinggi, dan memberikan teladan bagaimana menerapkan visi dan nilai tersebut. Dengan kata lain sebagai insipirator bagi masyarakatnya. [3]
Dengan mengacu pada psikologi teoritik, serta data-data terapi dan observasi SQ semakin dimantapkan oleh para psikolog yang memiliki wawasan iptek mutakhir. Temuan-temuan teknologi komputasi tentang penampang otak (brain) serta mekanisme kerjanya makin menambah bukti-bukti yang menguatkan teori-terori tentang SQ.
Dalam bukunya tersebut Zohar —yang juga seorang pakar fisika, filsafat, dan theologi— memberikan bukti-bukti ilmiah yang menguatkan SQ dengan merujuk pada teori-teori mekanisme saraf otak, serta melengkapinya dengan berbagai hasil kajiannya tentang agama-agama.
Secara sepintas hal tersebut seperti menunjukkan adanya keterkaitan dan kesempurnaan SQ sebagai ‘jembatan’ yang mengharmonisasikan ‘perseteruan’ sains dan agama yang telah berlangsung sejak zaman renaissance Eropa. Namun, benarkah seperti itu kenyataannya?
Spiritualitas Menurut Barat (Modern) dan Islam
Pada umumnya, tokoh-tokoh Barat Modern dewasa ini mendefinisikan spiritual adalah ’sesuatu yang menghidupkan’; semangat. Dalam hal istilah spiritual bagi ‘SQ’, Zohar mengutip definisi dari Webster’s Dictionary, ’spirit as the animating or vital principle; that gives life to the physical organism in contrast to its material elements; the breath of life.’ [4]
Bagi Zohar spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan Aspek Ketuhanan, sebab menurutnya seorang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. “…Many humanist and atheist have high SQ, many actively and vociferously religious people have very low SQ..” [5]
Ini cukup menarik untuk kita diskusikan. Dalam pandangan Islam, kata spirit yang dalam bahasa Arabnya ruh, dan spiritual (ruhaniyyah), tidak pernah dilepaskan dengan aspek Ketuhanan. Al-Quran mengatakan: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ‘Ruh itu ‘amr Rabbi (’amr Tuhanku).”(QS. 17: 85).
Jalaluddin Rumi dalam Diwan, yang dinukil oleh Sachiko Murata mengatakan : “Dapat diketahui dari ‘katakanlah: ‘Ruh itu ‘amr Rabbi (’amr Tuhanku)’ bahwa penjelasan tentang ruh itu tidak dapat dikemukakan dengan lidah.” [6]
Dalam pandangan Islam sangatlah mustahil seseorang yang mengingkari keberadaan Tuhan (atheis) mampu memiliki spiritualitas yang tinggi, kecuali bila makna ’spiritual’ yang dimaksudkan bukan seperti makna ruhaniyyah dalam terminologi Islam.
Untuk menambah pengenalan kita terhadap pandangan Islam, khususnya sisi esoterisnya tentang hakikat manusia kita akan melanjutkan dengan pembahasan berikut ini.
Hakikat Manusia Menurut Islam
Al-Quran sebagai firman Allah SWT, mengemukakan adanya ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh) dalam diri manusia. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka bila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. Lalu malaikat itu bersujud semuanya.” (QS. 38: 71-73). [7]
Dalam ayat-ayat lainnya berkenaan proses penyempurnaan jisim Al-Quran mengatakan, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) di tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. 23: 12-14).
Dan selain ruh dan jisim, Al-Quran juga mengungkapkan tentang penciptaan nafs (jiwa) sebagai berikut: “. . .dan nafs (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya (zakkaha), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 7-10)
Maulana Rumi, dalam Fihi ma Fihi berkaitan dengan masalah ini mengatakan : “Nafs adalah satu hal, ruh hal lain. Tidakkah engkau lihat betapa nafs mengembara keluar selama jisim tertidur? Sementara ruh tetap berada di dalam jisim, nafs berkelana dan menjadi sesuatu yang lain.” [8]
Jalaluddin Rahmat, dalam Pengantar Terjemahan buku Perfect Man karya M. Muthahhari, 1993, mengemukakan:
“Seperti alam semesta, manusia selalu berubah. Bahkan, mengikut Ibn Al-’Arabi, manusia adalah mikrokosmos yang menggabungkan semua alam dalam makrokosmos. Manusia adalah ‘alam shaghir; dan alam semesta adalah insan kabir. Pada makrokosmos terdapat tiga tingkatan alam: ruhani, khayali, dan jasmani. Pada manusia, ketiga alam ini diwakili oleh ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan.
Ruh adalah bagian yang paling terang, dan jism adalah bagian yang paling gelap. Nafs (jiwa) adalah jembatan yang menghubungkan jism dan ruh. Setiap orang mempunyai nafs yang berbeda. Ada nafs yang lebih dekat dengan ruh; dan ada nafs yang sangat jauh dari ruh. Pada sebagian orang, nafs-nya bersinar dan bergerak naik menuju wujud yang hakiki, yakni Tuhan. Pada sebagian orang lagi, nafs-nya sangat gelap dan bergerak turun menjauhi Tuhan, menuju ‘ketiadaan’. Nafs adalah barzakh yang selalu berubah.” [9]
Abdurrazzaq Kasyani, seorang pengulas Fushush Al-Hikam yang sangat masyhur, ketika mengomentari QS. 13: 3, menghubungkan bumi dengan jisim, ruh sebagai langit, dan nafs sebagai perantara di antara keduanya. [10]
Dalam diri manusia ketiga dunia tersebut dilengkapi dengan perangkatnya masing-masing. Pada jisim, Allah melengkapinya dengan panca indera lahir (mata, telinga, hidung, kulit, pengecap rasa), juga otak (brain) dan rasa/emosi yang tidak nampak secara lahiriah.
Nafs,—wujud yang hanya dapat dikenali dan disaksikan oleh ‘kemampuan tertentu’ manusia— juga dilengkapi dengan indera-indera batin seperti jisim. Khusus untuk akal nafs ini Al-Quran menggunakan istilah al-bab (bentuk jamak dari lubb), ulil al-bab, orang yang yang lubb-nya telah aktif. [11]
Hakikat Manusia Menurut Barat Pramodern dan Modern
Melengkapi pembahasan tentang hakikat manusia yang melandasi lahirnya SQ, maka kita akan mengemukakan pandangan Barat Pramodern dan Modern tentang hakikat manusia. Diawali dari era Pramodern, pemikiran tentang hakikat manusia sangat diwarnai oleh para pemikir Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Secara umum ketiga filosof besar Yunani meyakini bahwa manusia terdiri dari tiga entitas yaitu corpus (jisim, tubuh), animus (nafs, jiwa), dan spiritus (ruh).
Corpus kemudian ditransliterasikan menjadi corporeal (terkadang corporal) adalah material yang terdiri atas matter (materi mati) serta memiliki dimensi fisik. Ia merupakan satu aspek badaniah dari manusia (body, tubuh) yang berbeda dengan spiritus (spirit atau ruh) dan animus (soul atau nafs, jiwa). [12]
Animus, dari bahasa Yunani anemos artinya sesuatu yang meniup atau sesuatu yang bernafas [13]. Plato berpendapat bahwa animus (nafs, jiwa) adalah penjelmaan wujud spiritual yang bisa mengada secara independen dari materi dan segala sesuatu yang terdefinisikan, dan ia adalah inti kedirian manusia, atau kesadaran yang nyata.
Sedangkan spiritus —yang juga berarti ‘angin’, memiliki kesamaan arti dengan kata ruh yang seakar kata dengan rih (Bahasa Arab) yang artinya juga angin— menunjuk kepada sesuatu yang merupakan nafas kehidupan, kausa hidup yang dipahami sebagai uap halus atau udara yang menghidupkan organisme. Dalam manusia spiritus atau ruh adalah entitas yang ada dalam jisim dan nafs.
Ketiga filosof tersebut sepakat bahwa hakikat kehidupan manusia ditujukan untuk menemukan eudaimonia —istilah yang dipakai oleh Aristoteles— yang bermakna kesejahteraan spiritual yang vital. Socrates menggunakan istilah daimon untuk hal tersebut yang dirujukkan sebagai suara batin yang digambarkan sebagai ruh yang ada di cuping telinganya. Daimon tersebut yang mengingatkannya tentang kebijakan dan kebajikan, melarangnya dari berbuat jahat. Daimon atau eudaimonia sering digunakan bergantian dengan istilah theo, seorang dewa (malaikat).
Pencarian dan penemuan diri yang sejati, yaitu ketika seseorang dibimbing oleh daimon-nya adalah agar manusia menemukan arete-nya. Arete, dari bahasa Yunani berarti sesuatu yang baik dan unggul, dalam literatur Yunani, bila diterapkan pada seseorang, arete mengungkapkan kualitas-kualitas seperti keberanian, kegagahan, dan kekuatan. Dalam pengertian moral ia berarti keluhuran, kemanfaatan, dan kebaikan dalam memberikan pelayanan dan sering juga diterjemahkan sebagai kebajikan (virtue).
Adapun kebaikan yang didapat dari arete adalah agathon, yang dalam bahasa Yunani berarti baik. Dalam Platonisme, ini adalah sebutan untuk bentuk kebaikan tertinggi, gagasan puncak [14]. Konsep pencarian dan penemuan diri ini yang oleh Socrates diungkapkan dalam kalimat “Gnothi Se Authon” (Kenali dirimu sendiri).
Barat Modern yang kami maksudkan, —terkait dengan SQ— adalah Masyarakat Barat di era saintifik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Zohar ketika menyatakan kondisi masyarakat Barat yang melatar belakangi lahirnya gagasan tentang SQ, yang beliau sebut sebagai masyarakat yang mengalami kemajuan yang pesat dalam sains dan teknologi.
Pandangan filosof modern tentang hakikat manusia sangat diwarnai oleh semangat saintifik —bahkan boleh dikatakan sangat mendewakan sains untuk mengungkap misteri kemanusiaan, sehingga mereka sangat yakin dalam mensaintifikasi setiap kegiatan hidup manusia.
Barat Modern dengan tokohnya Francis Bacon, memulai era sains untuk merumuskan dan mengkaji hakikat manusia. Bacon mengemukakan teori tentang prosedur penelitian ilmiah, di mana penelitian —termasuk psikologi, antropologi, sosiologi, dan hal-hal yang terkait dengan kehidupan manusia— harus berlandaskan fakta maupun data, serta berdasarkan percobaan untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Metode ini disebut metode empiris-induksi.
Puncak revolusi ilmiah terjadi sejak Rene Descartes mengungkapkan filsafatnya Cogito Ergo Sum (saya berpikir maka saya ada). Menurut beliau esensi hakikat manusia terletak pada pikirannya, dan hanya benda-benda yang dapat ditangkap dengan jelaslah yang dapat dikatakan benar. Konsepsi yang demikian beliau sebut sebagai ‘intuisi’.
Descartes menegaskan bahwa tidak ada jalan menuju pengetahuan yang benar kecuali dengan intuisi yang jelas dan deduksilah yang diperlukan. Menurut beliau, terdapat dua alam yang terpisah antara alam pikiran (res cogitans) dan alam luas (res extensa). Pada abad-abad berikutnya para ilmuwan —termasuk para psikolog— mengembangkan teori-teori mereka sesuai dengan pemisahan Descartes ini. Ilmu-ilmu kemanusiaan memusatkan pada res cogitans dan ilmu-ilmu alam memusatkan pada res extensa. [15]
Psikologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang banyak melahirkan konsep-konsep tentang manusia kemudian menggunakan metode ilmiah sebagai suatu standar, bahwa aspek-aspek ‘kejiwaan’ yang dikaji dari manusia haruslah memenuhi kriteria empiris, observable, dan terukur (oleh indera lahir).
Manusia dalam pandangan para psikolog modern adalah makhluk yang misteri-misterinya dapat diukur oleh indera lahiriah (empiris). Dengan metode ilmiahnya para ilmuwan kemanusiaan modern menggunakan otoritasnya —yang agak dipaksakan— untuk menyeleksi pandangan-pandangan lain tentang hakikat manusia (pandangan Timur dan agama-agama monotheisme).
Berlatar-belakang lingkungan yang semacam inilah Zohar dan kawan-kawannya kemudian mencoba melahirkan gagasan SQ —yang sangat dibantu oleh temuan-temuan sains dan teknologi— sebagai suatu alternatif untuk lebih meningkatkan pemaknaan hidup manusia. Sebab beliau mengakui bahwa masyarakat Barat saat ini telah mengalami krisis makna dan mengalami spiritually dumb culture (budaya kekeluan spiritual). [16]
Religi dalam Pandangan Tokoh SQ
Menurut keyakinan tokoh-tokoh SQ, kemampuan SQ yang tinggi seseorang mampu dipakai untuk meningkatkan religiusitas (rasa keagamaan) seseorang [17]. Aspek religi manakah yang beliau maksudkan ketika menyatakan, “…many actively and vociferously religious people have very low SQ.” [18] ?
Sebagaimana kita ketahui, setiap agama monotheis —termasuk Islam— senantiasa memiliki aspek eksoteris yang berwujud norma-norma, aturan-aturan ritual lahiriah (fiqih, syariat) yang didasarkan pada kitab suci (wahyu Tuhan) serta aspek esoteris. Aspek esoteris ini lebih memusatkan pembahasan dan ajarannya pada pemaknaan dan hakikat simbol-simbol keagamaan.
Aspek-aspek itu muncul dalam hirarki syariat, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Pada sudut pandang yang lain merujuk pada hal yang sama dikenal Iman, Islam, dan Ihsan. Syariat atau islam lebih menampilkan sisi eksoteris agama dengan mengemukakan aturan-aturan hidup (fiqih) berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah yang mengatur sisi lahiriah manusia. Sedangkan sisi esoteris Islam banyak diungkapkan dalam thariqat, hakikat, dan ma’rifat atau iman dan ihsan. Pembahasan lebih mendalam tentang hal ini bukanlah menjadi tujuan tulisan ini.
Terkait dengan religi (agama) yang dimaksudkan oleh para tokoh SQ, kita dapat mengomentarinya sebagai berikut. Bila religi yang dimaksud oleh Zohar, dan rekan-rekannya telah mencakup aspek eksoteris dan esoteris, maka nampak terdapat kerancuan beliau dalam memahaminya.
Namun, andaikan yang beliau maksudkan dengan religi dan kegiatan keagamaan (active religious) adalah aspek eksoteris agama, dan spiritualitas keagamaan yang beliau maksudkan adalah esoteris, maka nampaknya hal ini lebih dapat diterima logika. Meskipun hal itu menimbulkan pertanyaan, “Mampukah suatu produk yang terlahir dari lingkungan saintifik dan sangat membatasi aspek kemanusiaan (hanya pada sisi lahiriah, empiris dan terukur), mencoba mengembangkan aspek-aspek batiniah (esoteris) manusia yang tadinya tidak dintegrasikan ? ”
Penutup
Ketika mengkaji secara lebih cermat, nampaklah bahwa terdapat perbedaan pemaknaan spiritual dan religi serta religiusitas antara tokoh-tokoh SQ dengan esoteris Islam. SQ merupakan produk sains yang lebih mencerminkan upaya manusia untuk memandang dirinya secara lebih utuh. Tampak adanya nuansa mempertemukan antara sains dan agama. Sebagai suatu produk dari sains lewat psikologi, SQ jauh lebih bagus dari pada pendekatan sains lainnya selama ini terhadap agama, namun untuk dapat menyentuh aspek terdalam dari sisi batiniah (esoteris) agama, nampaknya masih terlalu dini untuk kita katakan SQ mampu mencapainya.
Harus kita akui bahwa meskipun upaya obyektif yang dilakukan oleh para psikolog Barat—khususnya para tokoh SQ—untuk mengungkap misteri jiwa (animus, nafs), ruh (spiritus, spirit) dan kesempurnaan esoteris manusia cukup optimal, namun hasil yang mereka peroleh belumlah sempurna. Hanya pendekatan dan pengamalan secara total aspek esoteris agamalah—yang merupakan suatu kebenaran universal—yang mampu menyempurnakan hakikat kemanusiaan kita secara optimal.
Nampaknya sejauh ini kita sedemikian intens mencermati berbagai wacana modern guna memperkaya dan menguatkan klaim atas keyakinan keberagamaan, hingga kita hampir-hampir lupa bahwa kita memiliki khazanah yang belum sempat kita sentuh. Sangat tepat sindiran kisah Nashruddin Hoja atas kondisi kita hari ini.
Suatu malam Nashruddin kelihatan sedang mencari sesuatu di bawah lampu jalan di luar rumahnya. Tiba-tiba datang sahabatnya yang kemudian bertanya,” Apa yang sedang kamu cari, wahai Nashruddin?” “Aku sedang mencari kunciku yang hilang”, jawab Nashruddin. Kemudian sahabatnya ikut membantu mencari kunci tersebut. Setelah beberapa saat mereka mencari-cari dan tetap tidak menemukannya, bertanyalah sahabat Nashruddin, “Sebenarnya di manakah kuncimu hilang?” “Di rumah.”, jawab Nashruddin. “Lalu kenapa kamu tidak mencarinya di dalam rumah saja?” Nashruddin pun menjawab,” Habis di rumah gelap, maka aku mencarinya di luar saja yang lebih terang.” Sungguh suatu kalimat sindiran yang sarat akan makna bahwa bila kita tidak pernah menggali dari kekayaan Islam sendiri, maka sampai kapan pun juga kita tidak akan pernah bisa menemukan jawabannya.
[]
Catatan Kaki:
1) Zohar, Danah; SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, 2000, h.13
2) Ibid., h. 14
3) Ibid., h. 15
4) Ibid., h. 4
5) Ibid., h. 9
6) Murata, Sachiko, The Tao of Islam, terj., Mizan, 1998, h. 309
7) Lihat juga QS. 15: 28-29
Rumi, Sign of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi, terj. h. 102
9) Rakhmat, Jalaluddin; Insan Kamil: Manusia Seimbang, Sebuah Pengantar, Penerbit Lentera, h. viii.
10) lihat QS.2: 269; 3: 7; 13: 19; 14: 52; 3: 190-194: 12: 111.
11) Seperti dikutip oleh Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, Mizan, h. 322.
12) Adlin, Alfathri dan Iwan S.; Reduksi Konsepsi Manusia : “Tinjauan Umum pada Era Pramodernisme, Modernisme dan Posmodernisme” dalam Journal of Psyche, vol. 1, Pusat Riset Metodologi dan Pengembangan Psikologi Yayasan Pendidikan Paramartha, Bandung, 2000, h. 22.
13) Ibid., h. 22
14) Ibid., h. 26
15) Fridayanti; “Sejarah Perkembangan Pengetahuan Tentang Manusia dalam Perspektif Ilmu Barat”, dalam Journal of Psyche, vol. 1, Pusat Riset Metodologi dan Pengembangan Psikologi Yayasan Pendidikan Paramartha, Bandung, 2000, h. 12.
16) lihat Zohar, Danah; SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, 2000, h. 285
17) Ibid, h. 14
18) Ibid, h. 9
Referensi
Departemen Agama R.I.; Al-Quran dan Terjemahannya, 1971.
Ibn Al-’Arabi, The Bezels of Wisdom (Fushush Al-Hikam), terj. R.W. Austin, Suhail Academy, Chowk Urdu Bazar, Lahore, 1988.
Rakhmat, Jalaluddin; Insan Kamil: Manusia Seimbang, Sebuah Pengantar, Penerbit Lentera, Jakarta, 1993.
Schuon, Frithjof, Mencari Titik Temu Agama-agama, terj., Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987.
Schuon, Frithjof, The Root of Human Condition, terj., Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 1997.
Tajuddin, Muhammad, 272 Hadits Qudsi, Firman-firman Allah yang Tidak Tercantum dalam Al-Quran, Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1984.
Al-Ghazali, Muhammad; Ihya Ulumuddin, terj., Penerbit CV Asy-Syifa’, Semarang, 1994.
Murata, Sachiko, The Tao of Islam, terj., Mizan, 1998.
Zohar, Danah dan Ian Mashall, SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, Bloomsbury Publishing Plc, London, 2000.
Rumi, Jalaluddin. Sign of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi, terj., Pustaka Hidayah, 2000.
Jung, C.G. dan Aion. Researches into the Phenomenolgy oh the Self, terj., Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986.
Freud, Sigmund. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa; PT. Gramedia, Jakarta, 1986.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990.
Ahmad, Zamzam. Misykat Cahaya-cahaya, Yayasan Paramartha, Bandung, 1996.
Plato. The Complete Texts of Great Dialoguies of Plato, terj., Penerbit Sinar Baru, Bandung, 1986.
Leahy, Louis. Manusia Sebuah Misteri, PT. Gramedia, Jakarta, 1985.
Intuisi
Mengandalkan Intuisi dengan Tepat
Astaga!Karir -
Memang, intuisi cukup sulit diterjemahkan. Sebagian orang menyebutnya sebagai feeling, perkiraan, perasaan, spekulasi, kreativitas, atau imajinasi. Tapi apapun terjemahannya, dalam waktu tertentu intuisi diperlukan untuk mendukung sebuah keputusan. Tentu saja dalam dunia bisnis, intuisi tidak bisa diandalkan tanpa pertimbangan lainnya. Intuisi perlu dilengkapi dengan sejumlah data dan uji coba. Contohnya Einstein, ia mendapatkan gagasan berdasarkan intuisi. Namun, ia berusaha melakukan uji coba dan eksperimen untuk mengukur sejauhmana keakuratan gagasan itu.
Berdasarkan survei, sejumlah pemimpin puncak mengaku memakai intuisi dalam mempekerjakan dan mempromosikan karyawan. Sebagian lagi mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan tentang produk. Tapi tetap saja intuisi harus dikendalikan. Karena seperti halnya logika, intuisi juga bisa salah. Lalu bagaimana menggunakan intuisi dengan tepat? Ada beberapa hal yang bisa dimanfaatkan jika ingin memanfaatkan intuisi Anda, seperti yang diungkapkan berikut ini:
* Bedakan intuisi dari angan-angan muluk
Jika Anda ingin memakai intuisi, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda dipengaruhi oleh pikiran dan harapan yang muluk atau sekedar perkiraan semata? So, lebih baik jika Anda mengandalkan intuisi secara objektif. Artinya intuisi itu berdasarkan perkiraan yang didukung data-data.
* Bedakan intuisi dan keinginan pribadi
Seringkali seseorang mencampuradukkan intuisi dengan keinginan pribadi. Misalnya Anda memperkirakan kesuksesan peluncuran produk hanya karena produk itu karya Anda sendiri. Hindari perkiraan semacam ini. Anda boleh saja meluncurkan produk berdasarkan intuisi, karena produk tersebut benar-benar layak dipasarkan dan berkualitas, bukan cuma karena karya Anda sendiri.
* Jangan campur intuisi dan emosi pribadi
Perkiraan yang didasarkan emosi pribadi jelas tidak obyektif. Contoh kasus, pelaku bisnis di Inggris terus mempertahankan suatu produk hanya karena penghuni istana Buckingham masih suka memakai produk itu, sementara masyarakat umum sudah tidak menyukainya sama sekali. Hal seperti inilah yang harus dihindari.
* Jangan memakai intuisi secara terburu-buru
Kadang intuisi memang muncul secara mendadak, namun jangan keburu menggunakannya sebagai langkah pengambil keputusan atau tindakan. Intuisi itu tetap memerlukan kelayakan uji coba untuk menghindari penilaian yang terlalu dini.* Jangan enggan menguji
Seberapapun canggihnya intuisi Anda, pertimbangkan untuk menguji kelayakan intuisi itu. Jangan terlalu saklek oleh satu intuisi tanpa pertimbangan lain. Dengarkan pendapat orang lain tentang intuisi Anda disertai suatu pengujian serius.
Nah, sudahkah Anda menggunakan intuisi dengan tepat? Jika Anda dapat memanfaatkannya dengan baik, bukan tak mungkin bisnis atau pekerjaan Anda dapat berlangsung sukses. Selamat memanfaatkan intuisi…!
======
Untuk lebih sukses menjual, cari tahu hidden expectation dari si pelanggan dan gunakan intuisi dan bukan interpretasi dalam strategi Anda. Ini yang terjadi pada FedEx yang pada awal pendiriannya menuai banyak hinaan dan cibiran. Mengikuti intuisi seringkali membawa keberuntungan bagi Anda. Hermawan Kartajaya, ‘guru’ pemasaran RI.
TAJAMKAN INTUISI ANDA !
Saat kita mengembangkan insting atau intuisi kita, maka kita pun akan lebih sehat secara mental maupun fisik. Secara intuisi kita jadi mengetahui makanan-makanan, pekerjaan atau hubungan yang seperti apa yang baik untuk diri kita. Untuk itu, Laura Alden Kamm, penulis buku A Step-by-Step Guide to Intuitive Wellness, memberikan beberapa tips bagaimana cara mengembangkan intuisi kita.
1. Yakinlah kalau Anda dapat berubah. Apakah yang pertama kali harus anda lakukan agar dapat menajamkan intuisi anda ? “Anda butuh keinginan kuat dari dalam diri Anda untuk BERUBAH,” kata Kamm. Keinginan untuk berubah, yakin kalau anda dapat membuat nyata hal ini, maka anda pun akan berubah !
2. Dengarkan diri anda. Dengarkan secara mendalam, intuitif dan setiap hari kata-kata dari dalam hati anda.
3. Bermeditasi tiap hari. Meditasi sekurangnya 20 menit tiap hari, berdoa dan merenung. “Ada terlalu banyak suara di dunia,” kata Kamm. “Kita butuh waktu untuk sendiri.”
4. Buat sebuah jurnal (buku harian). Buatlah rekaman pikiran dan observasi anda untuk melihat kemajuan anda tiap harinya.
5. Kembalilah ke alam. ‘Ceburkan’ diri anda kembali ke alam. Pergilah ke luar dan hargai keindahan lingkungan sekitar, dan anda akan paham kekuatan yang anda miliki.
6. Bernapas. Gunakan menarik napas dalam-dalam sebagai cara anda menenangkan diri anda. Saat anda bernapas, pikirkan mengenai kebijaksanaan diri anda dan kemampuan intuisi anda.
7. Percayalah pada diri anda. Yakinlah atas penilaian anda dan tahu kalau anda memiliki jawabannya dalam diri anda, jika anda mau meluangkan waktu untuk mendengarkannya. “Kita perlu memperlambat langkah dan mengembangkan kemampuan intuisi kita untuk memilah-milah banyak informasi yang datang bertubi-tubi di masa ini,” kata Kamm.
8. Pikirkan kekecewaan sebagai salah satu kemungkinan. Kembangkan intuisi anda, dan anda selangkah lagi sampai pada kemampuan menyembuhkan diri sendiri, kata Kamm, yang mendorong para kliennya untuk berpikir kalau penyakit pun merupakan suatu kesempatan untuk membuat perubahan hidup ke arah positif.
9. Bayangkan kebahagiaan anda. Jika Anda tidak hidup dalam kehidupan yang anda inginkan, maka bayangkan anda hidup dalam kehidupan yang bahagia, lalu tanyakan diri anda apa yang dapat anda ubah sehingga membuat mimpi indah itu menjadi nyata.
BERLATIH MENDENGARKAN INTUISI
Ibu Katrin, guru kelas enam, sedang menimbang-nimbang, apakah akan menerima atau tidak, promosi menjadi kepala sekolah? Pekerjaan itu jelas menantang, namun ia khawatir waktu bagi keluarga akan semakin tersita. Lisna, manajer Pengembangan Sumber Daya Manusia, sudah berminggu-minggu mengangankan pekerjaan baru yang lebih “menggairahkan”. Anton yang baru di-PHK berpikir, barangkali ini saat terbaik untuk memulai berwirausaha. Bimantoro, sang insinyur, berniat coba-coba bekerja di bidang lain namun tetap bisa memanfaatkan keahliannya di bidang teknik.
“Ketika akan membuat keputusan sangat penting, entah dalam menentukan pasangan hidup atau pilihan profesi, keputusan harus datang dari bawah sadar”, demikian nasihat tokoh legendaris Sigmund Freud.
Intuisi ternyata merupakan sarana ampuh untuk memecahkan masalah, baik karir maupun kehidupan pribadi. Terbukti, para pengambil keputusan jitu, yang berhasil mengambil keputusan secara efisien, efektif, dan bijaksana, selalu mengkombinasi kekuatan intuisi dengan berpikir analitisnya. Masalahnya, bagaimana membina kekuatan intuitif ini sehingga dapat didayagunakan?
Kembangkan kemampuan intuisi dasar
Rupanya, awal dari segalanya adalah keyakinan. Yakini bahwa Anda mempunyai intuisi dan menghargai intuisi itu. Yakini Anda mampu mengetuk intuisi itu, dan benar-benar berniat mengembangkannya. Yakini, informasi yang diperlukan akan Anda peroleh dari intuisi Anda.
Berlatih relaksasi. Ketika tubuh dalam keadaan santai, pikiran pun akan mengendur. Ini memungkinkan frekuensi gelombang otak diperlambat, sehingga pikiran bawah sadar akan berfungsi lebih aktif.
Cari waktu dan tempat untuk menyendiri pada saat-saat tertentu supaya “suara hati” bisa lebih terdengar. Lepaskan segala perasaan dan pikiran negatif yang memblokade energi. Buat diri Anda berpikir positif. Ganti pikiran negatif dengan pernyataan atau khayalan yang lebih positif.
Bersemedi. Ini membantu Anda memasuki kondisi kesadaran yang lebih dalam, di mana jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda akan datang lebih mudah. Anda bisa bersemedi lewat berbagai sarana, misal api lilin, mantra, ungkapan tanpa arti, atau bahkan nama Anda sendiri.
Intuisi menghubungkan kita ke suatu database raksasa. Karenanya, untuk memperoleh jawaban spesifik pertanyaan yang diajukan pun harus spesifik. Sebagai contoh, Tiur sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah sebaiknya ia pindah ke Surabaya saja menyusul tunangannya? Maka janganlah ia bertanya, “Haruskah saya pindah?”, namun “Haruskah saya pindah ke Surabaya?” Kalau jawabannya, “ya”, baru informasi berikutnya ditanyakan, “Haruskah saya pindah bulan ini atau akhir tahun?”
Beberapa teknik pemecahan masalah
Memprogram mimpi. Katakan pada diri sendiri, “Saya ingin bermimpi tentang informasi yang akan memecahkan masalah ini”, dan “Saya akan bermimpi tentang itu, akan mengingatnya dan memahaminya.” Mimpi biasanya datang dalam bahasa atau perlambang yang dapat dimengerti. Amati rangkaian peristiwa dalam mimpi itu, dan perasaan Anda di saat mimpi itu berakhir dan Anda terjaga. Catat pertanda-pertanda yang terjadi dalam diri Anda maupun yang eksternal, yang terjadi keesokan harinya.
Bikin gambar coretan. Tuliskan pertanyaan yang ingin Anda ketahui jawabannya. Di bawah pertanyaan itu, gambarlah apa pun yang terlintas pada pikiran Anda dan yang mengalir begitu saja lewat tangan Anda. Terus menggambar hingga tak ada lagi yang ingin ditambahkan. Kini lihat makna di balik gambar dan simbol itu. Catat urutan pembuatan gambar dan simbol itu. Perhatikan pikiran dan perasaan Anda saat mengamati gambar.
Olahraga. Ajukan satu pertanyaan pada intuisi Anda sebelum berolahraga. Kemudian fokuskan diri pada olahraga. Perhatikan berbagai isyarat yang muncul selama dan setelah olahraga.
Bikin catatan mimpi. Luangkan waktu sekitar 20 menit untuk menuliskan segala sesuatu yang ingin, telah atau sedang dikerjakan. Ciptakan orang, perasaan, dan tempat yang ingin dikunjungi. Anggap semuanya serba mungkin. Tak perlu mempertimbangkan soal keamanan atau finansial. Perhatikan apa tema-tema besar yang muncul dalam mimpi Anda setelah itu.
Memprogram sukses sehari. Santai di tempat tidur sebelum bangun pagi. Bayangkan di layar batin, sehari yang penuh dengan kesuksesan. Pasang jam pada layar itu dan secara batin gerakkan jarumnya jam demi jam dari pagi hingga hari berakhir. Mainkan “bioskop batin” itu, dengan Anda sebagai sutradaranya. Dalam bioskop digambarkan bagaimana segala sesuatu berjalan dengan lancar dan sukses. Gunakan teknik ini untuk berlatih secara mental sebelum menjalani wawancara untuk suatu pekerjaan atau hal lain yang diidamkan.
Buat catatan harian. Setiap hari catatlah gagasan, perasaan, dan firasat Anda. Perhatikan apa yang ditulis dan perasaan Anda saat menulisnya. Catat pikiran dan perasaan yang muncul saat Anda selesai. Anda akan mengetahui beda antara firasat berdasarkan intuisi dan gagasan berdasarkan perhitungan.
Latihan amat perlu. Makin banyak Anda berusaha mendengarkan dan memperhatikan intuisi, semakin tinggi kemampuan Anda untuk mendengarnya. Maka luangkan waktu barang lima menit setiap hari untuk mendengarkan intuisi. Mintalah bantuan, dukungan, petunjuk, apa pun, kepada intuisi Anda. Percayalah, Anda akan memperoleh jawaban.
Intuisimu Masa Depanmu
Oleh H. Purdhi E Chandra
Your intuision guidance to your future. Ikuti intuisimu, niscaya kamu temukan sukses masa depanmu. Pesan bijak itu tidak dikutip dari seorang filsuf, tapi kebenarannya terbukti lewat pengalaman dan kenyataan yang penulis hadapi di lapangan. Bukti terbaru pun terkuak dari seorang mahasiswa Entrepreneur University (EU) Jakarta, saat ia mendapat kesempatan berbagi pengalaman penemuan bisnis barunya.
Sepintas, bisnisnya sederhana. Ia hanya menyediakan jasa wartel dari dalam taksi yang berjalan. Boleh jadi, dari segi omzet bisnisnya belum seberapa. Namun, yang menarik adalah proses penemuan ide bisnisnya yang kemudian ia beri nama taksi tel itu. Sang mahasiswa menemukan peluang bisnis itu dari intuisinya sendiri.
Ceritanya, suatu malam, si mahasiswa pulang kerja. Saat di dalam taksi, koleganya mengontaknya via HP untuk sebuah pembicaraan bisnis. Apadaya, mendadak baterai ponselnya habis. Kepanikan bertambah karena berkilo-kilometer taksi berjalan kebetulan tak ada wartel yang buka. Bisa ditebak, hilanglah peluang bisnis yang sebenarnya bisa ditangkap.
Intuisi Sumber Ide Bisnis
Pengalaman itu rupanya membuat intuisi sang mahasiswa dan seorang insinyur teknik ITB itu bermain. Ia melihat peluang bisnis yang menjanjikan. Dalam benaknya, mengapa tidak dibuat saja wartel dalam taksi sehingga kejadian fatal itu tak terulang pada orang lain. Berbagilah dia dengan beberapa teman lamanya di ITB. Dari hasil berbagi itulah lahir mesin taksi tel, yang kini berhasil diuji cobakan di 150 unit taksi milik Group Blue Bird. Sebuah awal sukses bisnis pun mulai dikecapnya.
Sukses awal itu memberinya spirit untuk keluar dari pekerjaanya yang ditekuni selama ini, sebuah biro konsultan di Jakarta. Ia memutuskan untuk menjadi pengusaha muda.
Kalau mengacu teori Quadrant Robert Kiyosaki dalam bukunya,”Rich Dads Guide to Investing”, intuisi sarjana ITB itu telah mengubah mindsetnya yang semula puas menjadi employee (karyawan) menjadi “nekat” menapaki peluang baru menjadi bisnis owner (pengusaha).
Membaca intuisi dan mengubahnya menjadi peluang bisnis adalah salah satu bentuk kecerdasan entrepreneur (Entrepreneurial Quotient). Ia merupakan modal utama menjadi pengusaha. Karenanya, keliru besar kalau orang takut menjadi pengusaha karena mengira bahwa uang atau keahlian adalah modal utama dalam memulai bisnis. Kalau kita memiliki kecerdasan entrepreneur, modal bisa pinjam dari orang lain, keterampilan bisa kita “beli” dari orang lain.
Dengan pemahaman akan pentingnya kecerdasan entrepreneur dalam memulai usaha, penulis ingin mengubah mindset yang keliru bahwa jangan sampai bisnis itu menganggu kuliah. Mestinya justru jangan sampai kuliah menganggu bisnis kita. Kalau bisnis sukses, kita bisa bangun perguruan tinggi sendiri.Sejauh kita berani mengubah mindset untuk menciptakan lapangan kerja dan bukan mencari kerja, kecerdasan akademik( academic smart) menjadi tidak penting karena street smart yang lebih diperlukan. Untuk mengasah ketajaman street-smart kita, biasakan untuk menggunakan intuisi kita ketimbang hitungan rasional.
Intuisi, sebagai salah satu fungsi otak kanan manusia, tampaknya kini masih dianggap misteri dalam hidup manusia. Padahal, dalam dunia entrepreneurship, intuisi sudah banyak terbukti tidak lagi jadi misteri tapi realitas sukses bisnis seseorang. Pesan Peter F Drucker benar adanya, “Setiap orang dapat belajar menjadi entrepreneur sukses. Sebab, untuk menjadi entrepreneur tidak ada yang misterius.”
Intuisi akan menuntun kita untuk cerdas membaca realitas hingga kita berhasil menemukan formula bisnis yang tepat untuk kita mulai. Penulis sendiri boleh jadi akan “gila” kalau terus mengikuti intuisi penulis sendiri yang bisa muncul setiap bangun tidur, bahkan di saat melamun sekalipun.
Lebih Hebat dari Dukun
Seorang kolega, yang semula penasaran dengan bisnis saya, bertanya, “Anda dapat dukun dari mana, kok bisnis anda berkembang terus?” Penulis kontan terkekeh mendengar pertanyaan nyeleneh itu. “Saya tak perlu dukun karena saya sendiri yang jadi dukunnya.” Saya pun melanjutkan jawaban saya, “Dalam membuka bisnis baru, saya tidak pernah berhitung untung rugi dulu. Saya lebih dulu menggunakan intuisi saya bahwa suatu bisnis bisa dimulai. Kalau saya yakin saya langsung memulai. Kalau terus dihitung-hitung, kita ndak bakal berani memulai.” Kolega saya hanya manggut-manggut mendengar penjelasan saya. Penulis memang sepakat dengan Bob Sadino bahwa dalam bisnis, rencana itu sumber bencana.Anda tak perlu kaget. Dalam soal mengasah ketajaman intuisi untuk kepentingan bisnis, ternyata masih juga dilakukan oleh seorang kampiun bisnis dunia sekelas George Soros. Konon, untuk memutuskan apakah corporate-nya akan membeli atau menjual dollarnya, Soros cuma mengandalkan intuisi yang didapat dari rasa nyeri di punggungnya. Kalau rasa nyeri terasa di punggung sebelah kanan, Soros akan meutuskan untuk membeli dollar. Sementara saat rasa nyeri terasa di punggung sebelah kiri, bisnisman keturunan Yahudi itu akan menjual simpanan dollarnya. Jangan kaget, karena intuisi itulah Soros bisa mengandalikan percaturan posisi mata uang dunia hingga saat ini. Salah satu buktinya, Soros lah yang kini membuat Indonesia porak poranda diterpa krisis tak berkesudahan.
Kemampuan seseorang untuk membaca dan merealisasikan intuisinya menjadi nyata memang berbeda. Kemampuan itu ditentukan oleh mental, pengalaman, perasaan, dan wawasan seseorang. Untuk mengembangkan ketajaman intuisi kita penulis coba berbagi empat kiat sederhana yang bisa dipraktekkan. Pertama, periksa darimana ilham anda muncul. Dengan langkah itu, siapa tahu kita akan menemukan inspirasi bisnis yang menarik. Kedua, bagilah pengalaman dengan orang lain. Siapa tahu dengan saling berbagi pengalaman kita bisa merangkum pengalaman beberapa orang untuk menjadi suatu ide bisnis yang kreatif. Ketiga, kalau perlu, bentuklah sebuah kelompok untuk saling berbagi pengalaman dan intuisi. Terakhir, jangan segan membaca pengalaman orang lain. Siapa tahu, dari sana anda menemukan hikmah untuk memulai bisnis baru.
Kini, masalahnya hanya keberanian Anda untuk mencoba memulai. Jadi, jangan terlalu lama menjadi karyawan. Saatnya menjadi pengusaha. Mindset ini harus diubah. Sebelum orang lain memulai, mulailah dari diri Anda sendiri. Sesal kemudian, jelas, tidak berguna.
The Power of Giving
Keyakinan yang besar dalam hati orang yang berinfaq di jalan Allah akan mendapat ganti lebih banyak, dan jaminan tidak akan melarat karena Allah yang akan memenuhi kebutuhannya. Orang dermawan selalu senang dan gembira. Air mukanya selalu jernih berseri-seri. Tidak tampak dalam dirinya ada ketakutan terhadap kondisi miskin yang menimpanya. Tidak ada kesedihan akan kekurangan harta. Kehidupannya dihiasi dengan kebahagiaan, walau hartanya kadang datang dan pergi silih berganti, sedangkan kekuatan iman kepada Allah tidak akan pernah hilang dan pergi. Dia adalah orang yang bertaqwa yang salah satu tandanya adalah mampu berinfaq fi al-sarra’ wa al-dharra’ (baik dalam kondisi senang maupun susah).
(Referensi : disarikan dari berbagai sumber)
Secara mendasar, Islam memandang tentang harta merupakan titipan Allah bukanlah mutlak dipandang sebagai kepemilikan manusia. Makna yang terkandung dalam istilah titipan dengan kepemilikan memiliki perbedaan yang berarti. Titipan bermakna sementara dalam penguasaan pihak lain serta diamanahkan untuk senantiasa dijaga dan kalaulah ingin diambil manfaatnya tentu seijin pihak yang memiliki barang. Dalam hal ini pihak yang mutlak memiliki barang dan menitipkannya pada pihak lain adalah Allah SWT sedangkan manusia berperan sebagai pihak yang menerima barang titipan (harta) tersebut.
Muhammad Husain bin Abdullah didalam kitab Ad-Dirosat fi al-Fikr al-Islami menjelaskan mengenai status harta (maal) disandarkan pada Allah dan juga disandarkan pada manusia. Sesungguhnya harta yang ada di dunia ini kepemilikannya semata-mata di tangan Allah yang diamanahkan penguasaannya kepada manusia untuk dikelola dan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan seijin Allah sebagaimana dalam ayatnya :
“… dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” (QS. An-Nuur : 33)
Maka dari itu penguasaan harta yang ada pada tangan manusia diharuskan penggunaannya sesuai dengan kaidah syara’ sebagai sebuah ketetapan hukum dari Allah Azza Wa Jalla. Dan inilah bentuk pemanfaatan yang seijin Allah SWT.
Manusia memiliki 2 potensi kehidupan yaitu al-gharaiz (naluri) dan Al-‘Aql. Naluri yang ada pada diri manusia terdiri dari naluri beragama (ghorizat at-Tadayyun), naluri mempertahankan diri (ghorizat al-Baqa’ ) dan naluri kasih-sayang (ghorizat an-Nau’). Secara naluri, manusia ingin memiliki harta dan terkadang hingga mencintai hartanya dan ini bagian dari ghorizat al-Baqo’. Tetapi diantara manusia ada yang terlalu berlebihan dalam mencintai hartanya, sehingga berat sekali mendermakan sebagian darinya untuk kesejahteraan pihak lain. Mereka dihinggapi penyakit hati akut, yaitu pelit, bakhil dan kikir. Al-Qur’an telah menggambarkan bahwa manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir, ketika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan berupa harta benda ia teramat kikir (QS. Al Ma’arij : 20).
Didalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menegaskan, cinta harta berlebihan hingga menimbulkan sifat bakhil, kikir, dan pelit, pertanda syirik melekat didalam hati. Dikarenakan harta memang bisa menjadi fitnah (cobaan) yang melenakan manusia. Hingga pada tataran yang klimaks seseorang bisa lalai dalam penghambaan dirinya terhadap Al-Kholiq yang jelas-jelas sebagai Pemberi Harta. Dan pada akhirnya orang tersebut menjatuhkan dirinya pada penghambaan terhadap harta benda yang ada padanya. Inilah fenomena syirik yang dijelaskan oleh Buya Hamka. Islam tidak melarang setiap orang memiliki, menguasai dan mencintai hartanya. Namun kecintaannya itu tidak boleh berakibat pada kerusakan diri sendiri dan orang lain karena didalam hartanya terdapat bagian orang lain (mustahiq) dan oleh karenanya harus dikeluarkan.
Rahasia Besar Infaq fi Sabilillah
Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mendidik manusia agar bersikap murah hati, murah tangan, mudah memberi dan berderma. Berderma untuk berbagai kepentingan, terutama demi menegakkan jalan Allah, menunjukkan tingkat keimanan kepada Allah. Jalan Allah mengandung pengertian yang sangat luas, termasuk didalamnya berkurban untuk kepentingan dakwah Islam, mengangkat kemiskinan, pendidikan agama, membangun atau memperbaiki masjid, musholla, madrasah, rumah anak yatim-piatu, rumah sakit, dan lain-lain.
Menurut DR.H.Shobahussurur,MA bahwa mendermakan harta diistilahkan dalam Al-Qur’an dengan infaq (membelanjakan) baik dalam bentuk infaq wajib seperti zakat maupun infaq sunnah seperti shodaqoh, wakaf, hadiah, hibah, dan lainnya. Seruan berinfaq dalam Al-Qur’an ada yang bersifat tarhib ( dalam bentuk ancaman ) kepada orang yang bakhil yaitu orang yang enggan mengeluarkan hartanya. Mereka diancam siksa yang pedih bersama hartanya di neraka. Ada pula yang bersifat targhib berupa rayuan, dan kabar gembira bagi siapa yang mengeluarkan hartanya akan mendapatkan pahal yang berlipat ganda.
Buya Hamka memberikan contoh menarik tentang satu kebajikan yang akan mendapat balasan dari Allah sebanyak tujuh ratus kali lipat, saat menjelaskan ayat-Nya di QS. Al-Baqoroh (261). Umpamanya ada dermawan yang mendirikan sebuah sekolah dasar di sebuah desa miskin dan terpencil, sehingga anak-anak di kampung itu tidak perlu lagi sekolah ke kampung lain. Kemudian sekolah dasar itu diisi ratusan murid. Tahun demi tahun sekolah itu meluluskan banyak pelajar yang kemudian melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi di tempat lain, hingga akhirnya kaum terpelajar itu mendirikan sekolah-sekolah lagi dan mengabdi di masyarakat.
Orang seperti itu pasti mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Walaupun dia hanya mendirikan satu buah sekolah, namun berkembang menjadi sekolah-sekolah dan meluluskan ratusan bahkan ribuan pelajar. Kalaulah Allah menyebutkan hasil itu tujuh ratus kali lipat sebagai sebuah kalkulasi kiasan, yang pada kenyataannya bisa beribu-ribu kali lipat dan bahkan tak terbilang dalam hitungan manusia.
Ada testimoni dari beberapa orang yang telah membuktikan janji Allah SWT yang tertuang dalam QS.Al-Baqoroh (261) diatas terhadap orang-orang yang berinfaq sebagai berikut :
- Suatu pagi di hari jum’at, saya berangkat dari rumah sembari berujar dalam hati, jika nanti saya bertemu seorang peminta-minta, akan saya keluarkan uang dari saku saya berapapun nilai yang terambil untuk membuktikan janji Allah akan kedahsyatan infaq. Hingga suatu ketika saya hendak memasuki masjid kampus untuk menunaikan sholat Jum’at, ada seorang peminta-minta mendatangi saya untuk mengharap rizki. Kemudian tanpa saya lihat didalam saku langsung saya keluarkan selembar uang kertas yang ternyata bernilai Rp 100ribu,-. Sesaat saya sempat bimbang langsung diberikan atau ditukar dengan uang yang lebih kecil nilainya. Namun dengan berucap basmalah saya berikan selembar uang seratus ribu tersebut. Selang seminggu kemudian, saya menerima telepon dari seorang petinggi kampus untuk mengerjakan sebuah proyek dan hasil dari proyek tersebut saya mendapat bagian peghasilan senilai Rp 10 juta. Seketika itu juga saya teringat akan janji Allah terhadap orang-orang yang berinfaq dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah SWT” (KM)
- Berawal dari PHK disebuah perusahaan Consultan Arsitektur saat bulan Romadhon kemarin 1428 H berlangsung.sangat bingung untuk bagaimana saya menyikapi masalah itu.karena banyak hal yang harus saya pikirkan dan saya pecahkan, seperti kebutuhan intern dan ekstern dll. Sebelum menjelang Lebaran saya Zakat Fitrah dulu ke Guru ngaji saya sekaligus ingin silaturahmi dan (maaf tanpa bermaksud Ria)ada sedikit shodaqoh untuknya karena mengingat jasa2 nya selama ini,walaupun saya sedang dilanda bingung yang jarang terjadi pada waktu itu, saya berharap kpd Allah SWT semoga memberikan ketenangan dan mencarikan jalan keluar untuk permasalahan yang saya hadapi,khususnya dalam segi materi.Lebaran telah tiba dan selang beberapa hari kemudian saya ditawari oleh teman saya untuk kerja Freelance dengan Orang Dubai untuk mengerjakan gambar Proyek daerah Oman Arab Saudi dengan upah 400.000 perhari yang saya ajukan.setelah 5 hari bekerja dan selesai,maka Mr.Harits rekan nya Mr Sanjai Shing memberi imbalan Rp.2.000.000,-tanpa tawar menawar terlebih dahulu.Subhanallah…saya baru ingat mungkin itu adalah Shodaqoh yang saya berikan waktu itu. Sodaqallahul adziiim(HW)
Tentu saja yang mampu memahami penjelasan diatas hingga dengan sadar mengorbankan harta, hanyalah orang yang kuat imannya, orang yang cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada harta benda. Sedangkan orang yang dikuasai nafsu serakah, diperbudak harta, pasti berat menyumbangkan satu biji, meskipun dijelaskan akan dilipatgandakan sampai tujuh ratus bahkan lebih. Orang dermawan yakin bahwa Allah Maha Luas sumber rizki-Nya. Bila dia mengorbankan sebagian harta untuk jalan Allah, maka Allah pasti menggantikan dengan yang lebih luas. Orang dermawan menginfaqkan hartanya dengan penuh ikhlas semata-mata mengharapkan ridho-Nya.
Adab dalam Berinfaq
Keikhlasan berinfaq di jalan Allah dibuktikan dengan tidak mengungkit-ungkit harta (mannan) yang sudah diberikan, dan tidak pula dengan cara menyakiti (adza) seperti dalam firman Allah : (QS. Al-Baqoroh : 262).
Buya Hamka menjelaskan bahwa mengungkit-ungkit dan menyakiti dalam berinfaq pertanda pemberi infaq tidak ada muatan ikhlas. Sebagai contoh, orang yang telah memberikan sumbangan mendirikan sekolah. Namun karena sekolah itu belum jadi, pihak panitia datang lagi kepada orang itu untuk meminta sumbangan berikutnya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberian yang telah lalu, dengan sikap sinis mempertanyakan kedatangannya untuk minta sumbangan lagi, padahal dulu dia telah menyumbang.
Orang yang mendermakan hartanya di jalan Allah ibarat orang yang yang selesai (maaf) membuang hajat. Artinya ada pelajaran baik yang bisa dipetik dari perumpaan tersebut yaitu setiap orang yang selesai membuang hajatnya tidak akan melihat lagi ke belakang berapa banyak yang telah dibuang. Selain itu banyak manfaat yang bisa dirasakan seseorang seusai membuang hajat yaitu tidak lagi dirasakan sakit yang mengganjal pada perut, penyakit yang ada pada tubuh manusia bisa dibuang melalui proses metabolisme pembuangan kotoran manusia, kondisi tubuh terasa segar bugar, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Perumpaman diatas bisa dinisbahkan dengan orang yang berinfaq di jalan Allah yang disertai dengan nilai keikhlasan dan semata-mata berharap keridhoaan Allah SWT. Dia tidak akan menghitung-hitung berapa jumlah yang sudah dikeluarkan, kepada siapa saja orang yang menerima infaqnya dan tidak akan diminta ketaatan, kepatuhan atau apapun bentuk balas budi dari orang yang diberi infaq kepada orang yang berinfaq. Tidak akan pernah disesali dan diingat-ingat lagi perihal infaq yang telah dilakukan.
Hakekat manfaat yang bisa didapat bagi orang yang berinfaq berupa tidak ada lagi rasa sakit yang mengganjal didalam tubuhnya seperti iri, dengki, dan stress. Orang yang berinfaq akan merasakan keleluasan hidup tanpa beban yang memberatkan fisiknya serasa tubuh yang segar bugar setiap saat. Penyebabnya adalah orang yang berinfaq akan senantiasa mendapatkan ketentraman hidup dari Allah SWT akibat do’a yang disampaikan oleh orang-orang yang menerima infaqnya. Terlebih lagi, manakala orang yang menerima infaq tersebut dari kalangan dhuafa’ selagi beriman. Penduduk langit dan bumi akan menjadi saksi atas segala amalan infaq yang dilakukannya sehingga bisa meringankan beban di yaumul hisab.
Khatimah
Orang dermawan tidak pernah ditimpa rasa takut, tidak pula merasa sedih. Tidak pernah takut, hartanya akan berkurang lantaran berinfaq di jalan Allah. Dalam keyakinannya, setiap harta yang dikeluarkan justru akan dilipatgandakan oleh Allah. Dia tidak akan merasa sedih karena kekurangan atau kehilangan. Hatinya lapang, pikirannya terbuka.Oleh karenanya, orang dermawan adalah orang berani yang mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan menegakkan Dinullah.
Soichiro Honda ” Lihat Kegagalan Saya”
Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi… Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya
lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.
Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.
Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis
apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938.
Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Kuliah Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hokum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan.
Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibahdatang.
Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk ndonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.
= = = = = = = = = = =
5 Resep keberhasilan Honda :
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.
Harga Sebuah Kesibukan
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang
Di MILIKI nya sampai akhirnya …..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak
cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap
dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang
akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not thebest,” katanya selalu,
mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya.
Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai stafdiplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD.
Lengkaplah kebahagiaan mereka.
Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya.
Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang
pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu,berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu
negara ke negara lain.
Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayangnya itu,
tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar,tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu , Rani dan suaminya meminta pengertian anaknya.
Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. dengan polosnya bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya.
Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik.
Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek.
Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan,…..tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku ”
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.
Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.
Diam-diam, saya iri pada keluarga ini
Setulusnya saya pernah bertanya,
”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?”
Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala
sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.
Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.
”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.
Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya.
Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!”
Kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh,
Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian.
Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter,
”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang.
Sekarang di Emergency.”
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
Allah swt sudah punya rencana lain.
Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya.
Ia shock berat.
Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen
untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku.
”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi.
Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.
Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan.
Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?”
Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari oranglain.
Suaminya mematung seperti tak bernyawa.
Wajahnya pias, tatapannya kosong.
”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.
Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat.
Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,lebih-lebih tangisan yang meledak.
”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif.
Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif.
Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba.
Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya.
Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif.
Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat
sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asyik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak
mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Kan masih ada waktu ‘nanti’ buat
mereka jadi abaikansaja dulu.
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang
diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menya-.
menyayanginya dan tetap akan ada.
Khasiat Buah dan Sayuran bagi Kesehatan
Apa khasiat terong?
Imam Ja’far ash Shadiq berkata, “Terong menambah air sumsum.” (Makarimul Akhlaq)
Apa khasiat kubis?
Imam Ja’far ash Shadiq berkata, “Kubis melunakkan kedua ginjal, memperlancar kerja otak, dan untuk menambah darah.” (Al Kafi, jilid 6)
Apa khasiat bawang bombai?
Imam Ja’far ash Shadiq berkata, “Bawang bombai menghilangkan bau mulut, menghilangkan lendir, dan memperkuat gusi.” (Al Mahasin)
Apa khasiat semangka?
Imam Ja’far ash Shadiq berkata, “Makanan sekaligus minuman yang menambah gairah, mencuci kandung kemih, dan memperlancar kencing.” (Al Khishal)
Apa khasiat apel?
Imam Ja’far ash Shadiq berkata, “apel menghilangkan panas, menyejukkan perut, dan mengusir demam.” (Al Mahasin)
Apa khasiat wortel?
Abu Hasan berkata, “Wortel memperlunak kedua ginjal dan menambah ereksi.” (Al Mahasin)
Apa khasiat buah pala di musim dingin?
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Melunakkan ginjal dan mengangkat hawa dingin.” (Al Mahasin)
Apa khasiat jinten hitam?
Sayyidina Ali ar Ridha berkata, “Mengeluarkan penyakit yang terkubur dalam tubuh.” (Fiqh ar Ridha)
Apa khasiat susu?
Rasulullah saw. bersabda, “Kalau umatku mengetahui apa yang berada dalam susu, maka mereka akan berobat dengannya walaupun dengan (harga) timbangan emas.” (Makarimul Akhlaq)
Apa khasiat labu?
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Labu memperlancar otak.” (Thibb al Aimmah)
Apa khasiat buah delima?
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Buah delima memperlancar pencernaan.” (’Uyun Akhbar ar Ridha)
Apa khasiat kismis?
Rasulullah saw. bersabda, “Memperbaiki empedu, menghilangkan lendir, memperkuat urat syaraf, menghilangkan kelemahan, memperbagus perilaku, memperindah jiwa, dan mengusir sumpek.” (Al Khisal)
Apa khasiat lobak?
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Lobak menghentikan lendir dan menghancurkan makanan. Daunnya memperlancar kencing.” (Amali ath Thusi, jilid 1)