Sebuah Apresiasi Kritis terhadap Spiritual Quotience
Sebagai sebuah produk keingin tahuan manusia Barat Modern untuk mengungkap misteri hakikat kemanusiaan —khususnya kecerdasannya —, SQ memberikan kesegaran baru di tengah-tengah pendekatan sains yang selama ini memisahkan diri dari perspektif agama. Bukti-bukti saintifik dan kajian-kajian kemanusiaan versi agama-agama Timur menjadikan menjadikan SQ seolah mampu mengharmoniskan persete ruan sains versus agama. Dengan menunjukkan hakikat kemanusiaan versi Esoteris Islam, Barat Pramodern, dan Barat Modern, kita dapat menun jukkan keberatan atas klaim di atas.
PADA pertengahan tahun 2000 dunia pendidikan dan psikologi kita dihenyakkan dengan temuan Barat Modern tentang ukuran kecerdasan manusia yang terbaru, yang mereka sebut SQ, Spiritual Intelligence. Maraknya diskusi tentang SQ tersebut tak pelak lagi ikut melibatkan para tokoh agama, termasuk ulama Islam, hal ini disebabkan penggunaan istilah Spiritual—yang biasanya sangat kental muatan keagamaannya—yang disematkan dalam ukuran kecerdasan tersebut. Benarkah istilah spiritual yang dimaksud oleh tokoh-tokoh SQ semakna dengan pemaknaan versi esoteris agama-agama? Aspek kemanusiaan apakah yang diukur dalam SQ? Apakah ada keterkaitan SQ dengan ukuran-ukuran tashawwuf dalam Islam tentang kesempurnaan manusia?
Apakah SQ itu?
Danah Zohar, salah seorang tokoh yang cukup berhasil mensistematisasikan dan mempopulerkan SQ bersama suaminya Ian Mashall— dalam buku mereka SQ; Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence mendefinisikan SQ sbb:
SQ, our deep, intuitive sense of meaning and value, is our guide ‘at the edge’. SQ is our conscience. We can use SQ to become more spiritually intelligent about religion. SQ takes us to heart of things, to the unity behind difference, to the potential beyond any actual expression. SQ can put us in touch with the meaning and essential spirit behind all great religions. A person high in SQ might practise any religion, but without narrowness, exclusiveness, bigotry or prejudice. Equally, a person high in SQ could have very spiritual qualities without being religious at all. [1]
Para tokoh SQ juga sangat yakin akan kemampuan SQ yang tinggi dapat dipakai untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kemampuan manusia dalam mengungkap misteri dirinya. Lebih lanjut Zohar mengatakan:
We use SQ to reach more fully towards the developed persons that we have the potential to be. Each of us forms a character through a combination of experience and vision, a tension between what we actually do and the bigger, better things that we might do. On the pure ego level we are I-centred, selfish, materially ambitious, and so on. But we do have transpersonal visions of goodness, beauty, perfection, generousity, sacrifice, and so on. SQ help us to out grow our immediate ego selves and to reach beyond to those deeper layers of potentiality that lie hidden within us. It helps us to live life at deeper level of meaning.
Lebih lanjut dikatakan:
And finally, we can use our SQ to wrestle with problems of good and evil, problems of life and death, the deepest origins of human suffering and often despair. Too often we try to rationalize such problems away, or else we become emotionally swamped or devastated by them. To come into full possession of our spiritual intelligence we have at some time to have seen the face of hell, to have known the possibility of despair, pain, deep suffering and loss, and to have made our peace with these. [2]
Hidup yang lebih bermakna akan senantiasa melingkupi orang-orang yang mengembangkan kemampuan SQ-nya secara optimal.
Untuk mengetahui kapasitas SQ seseorang, Zohar memberikan kuesioner-kuesioner terukur dengan tema-tema berikut: fleksibilitas dalam adaptasi spontan dan aktivitas; kesadaran diri (self-awareness); kemampuan menghadapi dan mengatasi penderitaan; kemampuan menghadapi dan menyelesaikan kenyerian; kualitas yang terinspirasi oleh visi dan nilai, keengganan untuk berbuat yang menyebabkan kerugian yang tidak perlu; kecenderungan untuk melihat segala sesuatu secara holistik; pencarian jawaban yang fundamental atas pertanyaan “Mengapa” dan “Bagaimana?”; hal-hal yang menjadikan seseorang seperti dalam istilah psikologi field-independent. Menurut beliau seseorang yang ber-SQ tinggi berpeluang menjadi pemimpin yang melayani (servant leader)—seseorang yang sangat responsif dalam menggiring orang lain kepada visi dan nilai yang lebih tinggi, dan memberikan teladan bagaimana menerapkan visi dan nilai tersebut. Dengan kata lain sebagai insipirator bagi masyarakatnya. [3]
Dengan mengacu pada psikologi teoritik, serta data-data terapi dan observasi SQ semakin dimantapkan oleh para psikolog yang memiliki wawasan iptek mutakhir. Temuan-temuan teknologi komputasi tentang penampang otak (brain) serta mekanisme kerjanya makin menambah bukti-bukti yang menguatkan teori-terori tentang SQ.
Dalam bukunya tersebut Zohar —yang juga seorang pakar fisika, filsafat, dan theologi— memberikan bukti-bukti ilmiah yang menguatkan SQ dengan merujuk pada teori-teori mekanisme saraf otak, serta melengkapinya dengan berbagai hasil kajiannya tentang agama-agama.
Secara sepintas hal tersebut seperti menunjukkan adanya keterkaitan dan kesempurnaan SQ sebagai ‘jembatan’ yang mengharmonisasikan ‘perseteruan’ sains dan agama yang telah berlangsung sejak zaman renaissance Eropa. Namun, benarkah seperti itu kenyataannya?
Spiritualitas Menurut Barat (Modern) dan Islam
Pada umumnya, tokoh-tokoh Barat Modern dewasa ini mendefinisikan spiritual adalah ’sesuatu yang menghidupkan’; semangat. Dalam hal istilah spiritual bagi ‘SQ’, Zohar mengutip definisi dari Webster’s Dictionary, ’spirit as the animating or vital principle; that gives life to the physical organism in contrast to its material elements; the breath of life.’ [4]
Bagi Zohar spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan Aspek Ketuhanan, sebab menurutnya seorang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. “…Many humanist and atheist have high SQ, many actively and vociferously religious people have very low SQ..” [5]
Ini cukup menarik untuk kita diskusikan. Dalam pandangan Islam, kata spirit yang dalam bahasa Arabnya ruh, dan spiritual (ruhaniyyah), tidak pernah dilepaskan dengan aspek Ketuhanan. Al-Quran mengatakan: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ‘Ruh itu ‘amr Rabbi (’amr Tuhanku).”(QS. 17: 85).
Jalaluddin Rumi dalam Diwan, yang dinukil oleh Sachiko Murata mengatakan : “Dapat diketahui dari ‘katakanlah: ‘Ruh itu ‘amr Rabbi (’amr Tuhanku)’ bahwa penjelasan tentang ruh itu tidak dapat dikemukakan dengan lidah.” [6]
Dalam pandangan Islam sangatlah mustahil seseorang yang mengingkari keberadaan Tuhan (atheis) mampu memiliki spiritualitas yang tinggi, kecuali bila makna ’spiritual’ yang dimaksudkan bukan seperti makna ruhaniyyah dalam terminologi Islam.
Untuk menambah pengenalan kita terhadap pandangan Islam, khususnya sisi esoterisnya tentang hakikat manusia kita akan melanjutkan dengan pembahasan berikut ini.
Hakikat Manusia Menurut Islam
Al-Quran sebagai firman Allah SWT, mengemukakan adanya ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh) dalam diri manusia. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka bila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. Lalu malaikat itu bersujud semuanya.” (QS. 38: 71-73). [7]
Dalam ayat-ayat lainnya berkenaan proses penyempurnaan jisim Al-Quran mengatakan, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) di tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. 23: 12-14).
Dan selain ruh dan jisim, Al-Quran juga mengungkapkan tentang penciptaan nafs (jiwa) sebagai berikut: “. . .dan nafs (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya (zakkaha), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 7-10)
Maulana Rumi, dalam Fihi ma Fihi berkaitan dengan masalah ini mengatakan : “Nafs adalah satu hal, ruh hal lain. Tidakkah engkau lihat betapa nafs mengembara keluar selama jisim tertidur? Sementara ruh tetap berada di dalam jisim, nafs berkelana dan menjadi sesuatu yang lain.” [8]
Jalaluddin Rahmat, dalam Pengantar Terjemahan buku Perfect Man karya M. Muthahhari, 1993, mengemukakan:
“Seperti alam semesta, manusia selalu berubah. Bahkan, mengikut Ibn Al-’Arabi, manusia adalah mikrokosmos yang menggabungkan semua alam dalam makrokosmos. Manusia adalah ‘alam shaghir; dan alam semesta adalah insan kabir. Pada makrokosmos terdapat tiga tingkatan alam: ruhani, khayali, dan jasmani. Pada manusia, ketiga alam ini diwakili oleh ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan.
Ruh adalah bagian yang paling terang, dan jism adalah bagian yang paling gelap. Nafs (jiwa) adalah jembatan yang menghubungkan jism dan ruh. Setiap orang mempunyai nafs yang berbeda. Ada nafs yang lebih dekat dengan ruh; dan ada nafs yang sangat jauh dari ruh. Pada sebagian orang, nafs-nya bersinar dan bergerak naik menuju wujud yang hakiki, yakni Tuhan. Pada sebagian orang lagi, nafs-nya sangat gelap dan bergerak turun menjauhi Tuhan, menuju ‘ketiadaan’. Nafs adalah barzakh yang selalu berubah.” [9]
Abdurrazzaq Kasyani, seorang pengulas Fushush Al-Hikam yang sangat masyhur, ketika mengomentari QS. 13: 3, menghubungkan bumi dengan jisim, ruh sebagai langit, dan nafs sebagai perantara di antara keduanya. [10]
Dalam diri manusia ketiga dunia tersebut dilengkapi dengan perangkatnya masing-masing. Pada jisim, Allah melengkapinya dengan panca indera lahir (mata, telinga, hidung, kulit, pengecap rasa), juga otak (brain) dan rasa/emosi yang tidak nampak secara lahiriah.
Nafs,—wujud yang hanya dapat dikenali dan disaksikan oleh ‘kemampuan tertentu’ manusia— juga dilengkapi dengan indera-indera batin seperti jisim. Khusus untuk akal nafs ini Al-Quran menggunakan istilah al-bab (bentuk jamak dari lubb), ulil al-bab, orang yang yang lubb-nya telah aktif. [11]
Hakikat Manusia Menurut Barat Pramodern dan Modern
Melengkapi pembahasan tentang hakikat manusia yang melandasi lahirnya SQ, maka kita akan mengemukakan pandangan Barat Pramodern dan Modern tentang hakikat manusia. Diawali dari era Pramodern, pemikiran tentang hakikat manusia sangat diwarnai oleh para pemikir Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Secara umum ketiga filosof besar Yunani meyakini bahwa manusia terdiri dari tiga entitas yaitu corpus (jisim, tubuh), animus (nafs, jiwa), dan spiritus (ruh).
Corpus kemudian ditransliterasikan menjadi corporeal (terkadang corporal) adalah material yang terdiri atas matter (materi mati) serta memiliki dimensi fisik. Ia merupakan satu aspek badaniah dari manusia (body, tubuh) yang berbeda dengan spiritus (spirit atau ruh) dan animus (soul atau nafs, jiwa). [12]
Animus, dari bahasa Yunani anemos artinya sesuatu yang meniup atau sesuatu yang bernafas [13]. Plato berpendapat bahwa animus (nafs, jiwa) adalah penjelmaan wujud spiritual yang bisa mengada secara independen dari materi dan segala sesuatu yang terdefinisikan, dan ia adalah inti kedirian manusia, atau kesadaran yang nyata.
Sedangkan spiritus —yang juga berarti ‘angin’, memiliki kesamaan arti dengan kata ruh yang seakar kata dengan rih (Bahasa Arab) yang artinya juga angin— menunjuk kepada sesuatu yang merupakan nafas kehidupan, kausa hidup yang dipahami sebagai uap halus atau udara yang menghidupkan organisme. Dalam manusia spiritus atau ruh adalah entitas yang ada dalam jisim dan nafs.
Ketiga filosof tersebut sepakat bahwa hakikat kehidupan manusia ditujukan untuk menemukan eudaimonia —istilah yang dipakai oleh Aristoteles— yang bermakna kesejahteraan spiritual yang vital. Socrates menggunakan istilah daimon untuk hal tersebut yang dirujukkan sebagai suara batin yang digambarkan sebagai ruh yang ada di cuping telinganya. Daimon tersebut yang mengingatkannya tentang kebijakan dan kebajikan, melarangnya dari berbuat jahat. Daimon atau eudaimonia sering digunakan bergantian dengan istilah theo, seorang dewa (malaikat).
Pencarian dan penemuan diri yang sejati, yaitu ketika seseorang dibimbing oleh daimon-nya adalah agar manusia menemukan arete-nya. Arete, dari bahasa Yunani berarti sesuatu yang baik dan unggul, dalam literatur Yunani, bila diterapkan pada seseorang, arete mengungkapkan kualitas-kualitas seperti keberanian, kegagahan, dan kekuatan. Dalam pengertian moral ia berarti keluhuran, kemanfaatan, dan kebaikan dalam memberikan pelayanan dan sering juga diterjemahkan sebagai kebajikan (virtue).
Adapun kebaikan yang didapat dari arete adalah agathon, yang dalam bahasa Yunani berarti baik. Dalam Platonisme, ini adalah sebutan untuk bentuk kebaikan tertinggi, gagasan puncak [14]. Konsep pencarian dan penemuan diri ini yang oleh Socrates diungkapkan dalam kalimat “Gnothi Se Authon” (Kenali dirimu sendiri).
Barat Modern yang kami maksudkan, —terkait dengan SQ— adalah Masyarakat Barat di era saintifik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Zohar ketika menyatakan kondisi masyarakat Barat yang melatar belakangi lahirnya gagasan tentang SQ, yang beliau sebut sebagai masyarakat yang mengalami kemajuan yang pesat dalam sains dan teknologi.
Pandangan filosof modern tentang hakikat manusia sangat diwarnai oleh semangat saintifik —bahkan boleh dikatakan sangat mendewakan sains untuk mengungkap misteri kemanusiaan, sehingga mereka sangat yakin dalam mensaintifikasi setiap kegiatan hidup manusia.
Barat Modern dengan tokohnya Francis Bacon, memulai era sains untuk merumuskan dan mengkaji hakikat manusia. Bacon mengemukakan teori tentang prosedur penelitian ilmiah, di mana penelitian —termasuk psikologi, antropologi, sosiologi, dan hal-hal yang terkait dengan kehidupan manusia— harus berlandaskan fakta maupun data, serta berdasarkan percobaan untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Metode ini disebut metode empiris-induksi.
Puncak revolusi ilmiah terjadi sejak Rene Descartes mengungkapkan filsafatnya Cogito Ergo Sum (saya berpikir maka saya ada). Menurut beliau esensi hakikat manusia terletak pada pikirannya, dan hanya benda-benda yang dapat ditangkap dengan jelaslah yang dapat dikatakan benar. Konsepsi yang demikian beliau sebut sebagai ‘intuisi’.
Descartes menegaskan bahwa tidak ada jalan menuju pengetahuan yang benar kecuali dengan intuisi yang jelas dan deduksilah yang diperlukan. Menurut beliau, terdapat dua alam yang terpisah antara alam pikiran (res cogitans) dan alam luas (res extensa). Pada abad-abad berikutnya para ilmuwan —termasuk para psikolog— mengembangkan teori-teori mereka sesuai dengan pemisahan Descartes ini. Ilmu-ilmu kemanusiaan memusatkan pada res cogitans dan ilmu-ilmu alam memusatkan pada res extensa. [15]
Psikologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang banyak melahirkan konsep-konsep tentang manusia kemudian menggunakan metode ilmiah sebagai suatu standar, bahwa aspek-aspek ‘kejiwaan’ yang dikaji dari manusia haruslah memenuhi kriteria empiris, observable, dan terukur (oleh indera lahir).
Manusia dalam pandangan para psikolog modern adalah makhluk yang misteri-misterinya dapat diukur oleh indera lahiriah (empiris). Dengan metode ilmiahnya para ilmuwan kemanusiaan modern menggunakan otoritasnya —yang agak dipaksakan— untuk menyeleksi pandangan-pandangan lain tentang hakikat manusia (pandangan Timur dan agama-agama monotheisme).
Berlatar-belakang lingkungan yang semacam inilah Zohar dan kawan-kawannya kemudian mencoba melahirkan gagasan SQ —yang sangat dibantu oleh temuan-temuan sains dan teknologi— sebagai suatu alternatif untuk lebih meningkatkan pemaknaan hidup manusia. Sebab beliau mengakui bahwa masyarakat Barat saat ini telah mengalami krisis makna dan mengalami spiritually dumb culture (budaya kekeluan spiritual). [16]
Religi dalam Pandangan Tokoh SQ
Menurut keyakinan tokoh-tokoh SQ, kemampuan SQ yang tinggi seseorang mampu dipakai untuk meningkatkan religiusitas (rasa keagamaan) seseorang [17]. Aspek religi manakah yang beliau maksudkan ketika menyatakan, “…many actively and vociferously religious people have very low SQ.” [18] ?
Sebagaimana kita ketahui, setiap agama monotheis —termasuk Islam— senantiasa memiliki aspek eksoteris yang berwujud norma-norma, aturan-aturan ritual lahiriah (fiqih, syariat) yang didasarkan pada kitab suci (wahyu Tuhan) serta aspek esoteris. Aspek esoteris ini lebih memusatkan pembahasan dan ajarannya pada pemaknaan dan hakikat simbol-simbol keagamaan.
Aspek-aspek itu muncul dalam hirarki syariat, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Pada sudut pandang yang lain merujuk pada hal yang sama dikenal Iman, Islam, dan Ihsan. Syariat atau islam lebih menampilkan sisi eksoteris agama dengan mengemukakan aturan-aturan hidup (fiqih) berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah yang mengatur sisi lahiriah manusia. Sedangkan sisi esoteris Islam banyak diungkapkan dalam thariqat, hakikat, dan ma’rifat atau iman dan ihsan. Pembahasan lebih mendalam tentang hal ini bukanlah menjadi tujuan tulisan ini.
Terkait dengan religi (agama) yang dimaksudkan oleh para tokoh SQ, kita dapat mengomentarinya sebagai berikut. Bila religi yang dimaksud oleh Zohar, dan rekan-rekannya telah mencakup aspek eksoteris dan esoteris, maka nampak terdapat kerancuan beliau dalam memahaminya.
Namun, andaikan yang beliau maksudkan dengan religi dan kegiatan keagamaan (active religious) adalah aspek eksoteris agama, dan spiritualitas keagamaan yang beliau maksudkan adalah esoteris, maka nampaknya hal ini lebih dapat diterima logika. Meskipun hal itu menimbulkan pertanyaan, “Mampukah suatu produk yang terlahir dari lingkungan saintifik dan sangat membatasi aspek kemanusiaan (hanya pada sisi lahiriah, empiris dan terukur), mencoba mengembangkan aspek-aspek batiniah (esoteris) manusia yang tadinya tidak dintegrasikan ? ”
Penutup
Ketika mengkaji secara lebih cermat, nampaklah bahwa terdapat perbedaan pemaknaan spiritual dan religi serta religiusitas antara tokoh-tokoh SQ dengan esoteris Islam. SQ merupakan produk sains yang lebih mencerminkan upaya manusia untuk memandang dirinya secara lebih utuh. Tampak adanya nuansa mempertemukan antara sains dan agama. Sebagai suatu produk dari sains lewat psikologi, SQ jauh lebih bagus dari pada pendekatan sains lainnya selama ini terhadap agama, namun untuk dapat menyentuh aspek terdalam dari sisi batiniah (esoteris) agama, nampaknya masih terlalu dini untuk kita katakan SQ mampu mencapainya.
Harus kita akui bahwa meskipun upaya obyektif yang dilakukan oleh para psikolog Barat—khususnya para tokoh SQ—untuk mengungkap misteri jiwa (animus, nafs), ruh (spiritus, spirit) dan kesempurnaan esoteris manusia cukup optimal, namun hasil yang mereka peroleh belumlah sempurna. Hanya pendekatan dan pengamalan secara total aspek esoteris agamalah—yang merupakan suatu kebenaran universal—yang mampu menyempurnakan hakikat kemanusiaan kita secara optimal.
Nampaknya sejauh ini kita sedemikian intens mencermati berbagai wacana modern guna memperkaya dan menguatkan klaim atas keyakinan keberagamaan, hingga kita hampir-hampir lupa bahwa kita memiliki khazanah yang belum sempat kita sentuh. Sangat tepat sindiran kisah Nashruddin Hoja atas kondisi kita hari ini.
Suatu malam Nashruddin kelihatan sedang mencari sesuatu di bawah lampu jalan di luar rumahnya. Tiba-tiba datang sahabatnya yang kemudian bertanya,” Apa yang sedang kamu cari, wahai Nashruddin?” “Aku sedang mencari kunciku yang hilang”, jawab Nashruddin. Kemudian sahabatnya ikut membantu mencari kunci tersebut. Setelah beberapa saat mereka mencari-cari dan tetap tidak menemukannya, bertanyalah sahabat Nashruddin, “Sebenarnya di manakah kuncimu hilang?” “Di rumah.”, jawab Nashruddin. “Lalu kenapa kamu tidak mencarinya di dalam rumah saja?” Nashruddin pun menjawab,” Habis di rumah gelap, maka aku mencarinya di luar saja yang lebih terang.” Sungguh suatu kalimat sindiran yang sarat akan makna bahwa bila kita tidak pernah menggali dari kekayaan Islam sendiri, maka sampai kapan pun juga kita tidak akan pernah bisa menemukan jawabannya.
[]
Catatan Kaki:
1) Zohar, Danah; SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, 2000, h.13
2) Ibid., h. 14
3) Ibid., h. 15
4) Ibid., h. 4
5) Ibid., h. 9
6) Murata, Sachiko, The Tao of Islam, terj., Mizan, 1998, h. 309
7) Lihat juga QS. 15: 28-29
Rumi, Sign of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi, terj. h. 102
9) Rakhmat, Jalaluddin; Insan Kamil: Manusia Seimbang, Sebuah Pengantar, Penerbit Lentera, h. viii.
10) lihat QS.2: 269; 3: 7; 13: 19; 14: 52; 3: 190-194: 12: 111.
11) Seperti dikutip oleh Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, Mizan, h. 322.
12) Adlin, Alfathri dan Iwan S.; Reduksi Konsepsi Manusia : “Tinjauan Umum pada Era Pramodernisme, Modernisme dan Posmodernisme” dalam Journal of Psyche, vol. 1, Pusat Riset Metodologi dan Pengembangan Psikologi Yayasan Pendidikan Paramartha, Bandung, 2000, h. 22.
13) Ibid., h. 22
14) Ibid., h. 26
15) Fridayanti; “Sejarah Perkembangan Pengetahuan Tentang Manusia dalam Perspektif Ilmu Barat”, dalam Journal of Psyche, vol. 1, Pusat Riset Metodologi dan Pengembangan Psikologi Yayasan Pendidikan Paramartha, Bandung, 2000, h. 12.
16) lihat Zohar, Danah; SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, 2000, h. 285
17) Ibid, h. 14
18) Ibid, h. 9
Referensi
Departemen Agama R.I.; Al-Quran dan Terjemahannya, 1971.
Ibn Al-’Arabi, The Bezels of Wisdom (Fushush Al-Hikam), terj. R.W. Austin, Suhail Academy, Chowk Urdu Bazar, Lahore, 1988.
Rakhmat, Jalaluddin; Insan Kamil: Manusia Seimbang, Sebuah Pengantar, Penerbit Lentera, Jakarta, 1993.
Schuon, Frithjof, Mencari Titik Temu Agama-agama, terj., Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987.
Schuon, Frithjof, The Root of Human Condition, terj., Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 1997.
Tajuddin, Muhammad, 272 Hadits Qudsi, Firman-firman Allah yang Tidak Tercantum dalam Al-Quran, Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1984.
Al-Ghazali, Muhammad; Ihya Ulumuddin, terj., Penerbit CV Asy-Syifa’, Semarang, 1994.
Murata, Sachiko, The Tao of Islam, terj., Mizan, 1998.
Zohar, Danah dan Ian Mashall, SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, Bloomsbury Publishing Plc, London, 2000.
Rumi, Jalaluddin. Sign of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi, terj., Pustaka Hidayah, 2000.
Jung, C.G. dan Aion. Researches into the Phenomenolgy oh the Self, terj., Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986.
Freud, Sigmund. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa; PT. Gramedia, Jakarta, 1986.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990.
Ahmad, Zamzam. Misykat Cahaya-cahaya, Yayasan Paramartha, Bandung, 1996.
Plato. The Complete Texts of Great Dialoguies of Plato, terj., Penerbit Sinar Baru, Bandung, 1986.
Leahy, Louis. Manusia Sebuah Misteri, PT. Gramedia, Jakarta, 1985.
Saatnya SQ yang berkuasa!!! This True..
But not just SQ…
IESQ juga harus saling diseimbangkan…
mampir ke blog ku ya, kasih-kasih komentar juga….
aku juga bikin-ikin tulisan …lagi belajar nulis…
waaahhhh………….,
banyak dan lengkap, makasih ya. tak save, buat baca di rumah. saya minta ya?!.
salam kenal,