.:: KLIKPAGI ::.

Blog of Many Information

The Power of Giving

Keyakinan yang besar dalam hati orang yang berinfaq di jalan Allah akan mendapat ganti lebih banyak, dan jaminan tidak akan melarat karena Allah yang akan memenuhi kebutuhannya. Orang dermawan selalu senang dan gembira. Air mukanya selalu jernih berseri-seri. Tidak tampak dalam dirinya ada ketakutan terhadap kondisi miskin yang menimpanya. Tidak ada kesedihan akan kekurangan harta. Kehidupannya dihiasi dengan kebahagiaan, walau hartanya kadang datang dan pergi silih berganti, sedangkan kekuatan iman kepada Allah tidak akan pernah hilang dan pergi. Dia adalah orang yang bertaqwa yang salah satu tandanya adalah mampu berinfaq fi al-sarra’ wa al-dharra’ (baik dalam kondisi senang maupun susah).

(Referensi : disarikan dari berbagai sumber)

Secara mendasar, Islam memandang tentang harta merupakan titipan Allah bukanlah mutlak dipandang sebagai kepemilikan manusia. Makna yang terkandung dalam istilah titipan dengan kepemilikan memiliki perbedaan yang berarti. Titipan bermakna sementara dalam penguasaan pihak lain serta diamanahkan untuk senantiasa dijaga dan kalaulah ingin diambil manfaatnya tentu seijin pihak yang memiliki barang. Dalam hal ini pihak yang mutlak memiliki barang dan menitipkannya pada pihak lain adalah Allah SWT sedangkan manusia berperan sebagai pihak yang menerima barang titipan (harta) tersebut.

 

Muhammad Husain bin Abdullah didalam kitab Ad-Dirosat fi al-Fikr al-Islami menjelaskan mengenai status harta (maal) disandarkan pada Allah dan juga disandarkan pada manusia. Sesungguhnya harta yang ada di dunia ini kepemilikannya semata-mata di tangan Allah yang diamanahkan penguasaannya kepada manusia untuk dikelola dan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan seijin Allah sebagaimana dalam ayatnya  :

“… dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” (QS. An-Nuur : 33)

Maka dari itu penguasaan harta yang ada pada tangan manusia diharuskan penggunaannya sesuai dengan kaidah syara’ sebagai sebuah ketetapan hukum dari Allah Azza Wa Jalla. Dan inilah bentuk pemanfaatan yang seijin Allah SWT.

 

Manusia memiliki 2 potensi kehidupan yaitu al-gharaiz (naluri) dan Al-‘Aql. Naluri yang ada pada diri manusia terdiri dari naluri beragama (ghorizat at-Tadayyun), naluri mempertahankan diri (ghorizat al-Baqa’ ) dan naluri kasih-sayang (ghorizat an-Nau’). Secara naluri, manusia ingin memiliki harta dan terkadang hingga mencintai hartanya dan ini bagian dari ghorizat al-Baqo’. Tetapi diantara manusia ada yang terlalu berlebihan dalam mencintai hartanya, sehingga berat sekali mendermakan sebagian darinya untuk kesejahteraan pihak lain. Mereka dihinggapi penyakit hati akut, yaitu pelit, bakhil dan kikir. Al-Qur’an telah menggambarkan bahwa manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir, ketika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan berupa harta benda ia teramat kikir (QS. Al Ma’arij : 20).

 

Didalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menegaskan, cinta harta berlebihan hingga menimbulkan sifat bakhil, kikir, dan pelit, pertanda syirik melekat didalam hati. Dikarenakan harta memang bisa menjadi fitnah (cobaan) yang melenakan manusia. Hingga pada tataran yang klimaks seseorang bisa lalai dalam penghambaan dirinya terhadap Al-Kholiq yang jelas-jelas sebagai Pemberi Harta. Dan pada akhirnya orang tersebut menjatuhkan dirinya pada penghambaan terhadap harta benda yang ada padanya. Inilah fenomena syirik yang dijelaskan oleh Buya Hamka. Islam tidak melarang setiap orang memiliki, menguasai dan mencintai hartanya. Namun kecintaannya itu tidak boleh berakibat pada kerusakan diri sendiri dan orang lain karena didalam hartanya terdapat bagian orang lain (mustahiq) dan oleh karenanya harus dikeluarkan.

 

Rahasia Besar Infaq fi Sabilillah

 

Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mendidik manusia agar bersikap murah hati, murah tangan, mudah memberi dan berderma. Berderma untuk berbagai kepentingan, terutama demi menegakkan jalan Allah, menunjukkan tingkat keimanan kepada Allah. Jalan Allah mengandung pengertian yang sangat luas, termasuk didalamnya berkurban untuk kepentingan dakwah Islam, mengangkat kemiskinan, pendidikan agama, membangun atau memperbaiki masjid, musholla, madrasah, rumah anak yatim-piatu, rumah sakit, dan lain-lain.

 

Menurut DR.H.Shobahussurur,MA bahwa mendermakan harta diistilahkan dalam Al-Qur’an dengan infaq (membelanjakan) baik dalam bentuk infaq wajib seperti zakat maupun infaq sunnah seperti shodaqoh, wakaf, hadiah, hibah, dan lainnya. Seruan berinfaq dalam Al-Qur’an ada yang bersifat tarhib ( dalam bentuk ancaman ) kepada orang yang bakhil yaitu orang yang enggan mengeluarkan hartanya. Mereka diancam siksa yang pedih bersama hartanya di neraka. Ada pula yang bersifat targhib berupa rayuan, dan kabar gembira bagi siapa yang mengeluarkan hartanya akan mendapatkan pahal yang berlipat ganda.

 

Buya Hamka memberikan contoh menarik tentang satu kebajikan yang akan mendapat balasan dari Allah sebanyak tujuh ratus kali lipat, saat menjelaskan ayat-Nya di QS. Al-Baqoroh (261). Umpamanya ada dermawan yang mendirikan sebuah sekolah dasar di sebuah desa miskin dan terpencil, sehingga anak-anak di kampung itu tidak perlu lagi sekolah ke kampung lain. Kemudian sekolah dasar itu diisi ratusan murid. Tahun demi tahun sekolah itu meluluskan banyak pelajar yang kemudian melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi di tempat lain, hingga akhirnya kaum terpelajar itu mendirikan sekolah-sekolah lagi dan mengabdi di masyarakat.

 

Orang seperti itu pasti mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Walaupun dia hanya mendirikan satu buah sekolah, namun berkembang menjadi sekolah-sekolah dan meluluskan ratusan bahkan ribuan pelajar. Kalaulah Allah menyebutkan hasil itu tujuh ratus kali lipat sebagai sebuah kalkulasi kiasan, yang pada kenyataannya bisa beribu-ribu kali lipat dan bahkan tak terbilang dalam hitungan manusia.

 

Ada testimoni dari beberapa orang yang telah membuktikan janji Allah SWT yang tertuang dalam QS.Al-Baqoroh (261) diatas terhadap orang-orang yang berinfaq sebagai berikut :

-          Suatu pagi di hari jum’at, saya berangkat dari rumah sembari berujar dalam hati, jika nanti saya bertemu seorang peminta-minta, akan saya keluarkan uang dari saku saya berapapun nilai yang  terambil untuk membuktikan janji Allah akan kedahsyatan infaq. Hingga suatu ketika saya hendak memasuki masjid kampus untuk menunaikan sholat Jum’at, ada seorang peminta-minta mendatangi saya untuk mengharap rizki. Kemudian tanpa saya lihat didalam saku langsung saya keluarkan selembar uang kertas yang ternyata bernilai Rp 100ribu,-. Sesaat saya sempat bimbang langsung diberikan atau ditukar dengan uang yang lebih kecil nilainya. Namun dengan berucap basmalah saya berikan selembar uang seratus ribu tersebut. Selang seminggu kemudian, saya menerima telepon dari seorang petinggi kampus untuk mengerjakan sebuah proyek dan hasil dari proyek tersebut saya mendapat bagian peghasilan senilai Rp 10 juta. Seketika itu juga saya teringat akan janji Allah terhadap orang-orang yang berinfaq dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah SWT” (KM)

-          Berawal dari PHK disebuah perusahaan Consultan Arsitektur saat bulan Romadhon kemarin 1428 H berlangsung.sangat bingung untuk bagaimana saya menyikapi masalah itu.karena banyak hal yang harus saya pikirkan dan saya pecahkan, seperti kebutuhan intern dan ekstern dll. Sebelum menjelang Lebaran saya Zakat Fitrah dulu ke Guru ngaji saya sekaligus ingin silaturahmi dan (maaf tanpa bermaksud Ria)ada sedikit shodaqoh untuknya karena mengingat jasa2 nya selama ini,walaupun saya sedang dilanda bingung yang jarang terjadi pada waktu itu, saya berharap kpd Allah SWT semoga memberikan ketenangan dan mencarikan jalan keluar untuk permasalahan yang saya hadapi,khususnya dalam segi materi.Lebaran telah tiba dan selang beberapa hari kemudian saya ditawari oleh teman saya untuk kerja Freelance dengan Orang Dubai untuk mengerjakan gambar Proyek daerah Oman Arab Saudi dengan upah 400.000 perhari yang saya ajukan.setelah 5 hari bekerja dan selesai,maka Mr.Harits rekan nya Mr Sanjai Shing memberi imbalan Rp.2.000.000,-tanpa tawar menawar terlebih dahulu.Subhanallah…saya baru ingat mungkin itu adalah Shodaqoh yang saya berikan waktu itu. Sodaqallahul adziiim(HW)

 

Tentu saja yang mampu memahami penjelasan diatas hingga dengan sadar mengorbankan harta, hanyalah orang yang kuat imannya, orang yang cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada harta benda. Sedangkan orang yang dikuasai nafsu serakah, diperbudak harta, pasti berat menyumbangkan satu biji, meskipun dijelaskan akan dilipatgandakan sampai tujuh ratus bahkan lebih. Orang dermawan yakin bahwa Allah Maha Luas sumber rizki-Nya. Bila dia mengorbankan sebagian harta untuk jalan Allah, maka Allah pasti menggantikan dengan yang lebih luas. Orang dermawan menginfaqkan hartanya dengan penuh ikhlas semata-mata mengharapkan ridho-Nya.

 

Adab dalam Berinfaq

Keikhlasan berinfaq di jalan Allah dibuktikan dengan tidak mengungkit-ungkit harta (mannan) yang sudah diberikan, dan tidak pula dengan cara menyakiti (adza) seperti dalam firman Allah : (QS. Al-Baqoroh : 262).

Buya Hamka menjelaskan bahwa mengungkit-ungkit dan menyakiti dalam berinfaq pertanda pemberi infaq tidak ada muatan ikhlas. Sebagai contoh, orang yang telah memberikan sumbangan mendirikan sekolah. Namun karena sekolah itu belum jadi, pihak panitia datang lagi kepada orang itu untuk meminta sumbangan berikutnya. Tiba-tiba diungkit-ungkit pemberian yang telah lalu, dengan sikap sinis mempertanyakan kedatangannya untuk minta sumbangan lagi, padahal dulu dia telah menyumbang.

 

Orang yang mendermakan hartanya di jalan Allah ibarat orang yang yang selesai (maaf) membuang hajat. Artinya ada pelajaran baik yang bisa dipetik dari perumpaan tersebut yaitu setiap orang yang selesai membuang hajatnya tidak akan melihat lagi ke belakang berapa banyak yang telah dibuang. Selain itu banyak manfaat yang bisa dirasakan seseorang seusai membuang hajat yaitu tidak lagi dirasakan sakit yang mengganjal pada perut, penyakit yang ada pada tubuh manusia bisa dibuang melalui proses metabolisme pembuangan kotoran manusia, kondisi tubuh terasa segar bugar, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Perumpaman diatas bisa dinisbahkan dengan orang yang berinfaq di jalan Allah yang disertai dengan nilai keikhlasan dan semata-mata berharap keridhoaan Allah SWT. Dia tidak akan menghitung-hitung berapa jumlah yang sudah dikeluarkan, kepada siapa saja orang yang menerima infaqnya dan tidak akan diminta ketaatan, kepatuhan atau apapun bentuk balas budi dari orang yang diberi infaq kepada orang yang berinfaq. Tidak akan pernah disesali dan diingat-ingat lagi perihal infaq yang telah dilakukan.

 

Hakekat manfaat yang bisa didapat bagi orang yang berinfaq berupa tidak ada lagi rasa sakit yang mengganjal didalam tubuhnya seperti iri, dengki, dan stress. Orang yang berinfaq akan merasakan keleluasan hidup tanpa beban yang memberatkan fisiknya serasa tubuh yang segar bugar setiap saat. Penyebabnya adalah orang yang berinfaq akan senantiasa mendapatkan ketentraman  hidup dari Allah SWT akibat do’a yang disampaikan oleh orang-orang yang menerima infaqnya. Terlebih lagi, manakala orang yang menerima infaq tersebut dari kalangan dhuafa’ selagi beriman.  Penduduk langit dan bumi akan menjadi saksi atas segala amalan infaq yang dilakukannya sehingga bisa meringankan beban di yaumul hisab.

 

 

Khatimah

Orang dermawan tidak pernah ditimpa rasa takut, tidak pula merasa sedih. Tidak pernah takut, hartanya akan berkurang lantaran berinfaq di jalan Allah. Dalam keyakinannya, setiap harta yang dikeluarkan justru akan dilipatgandakan oleh Allah. Dia tidak akan merasa sedih karena kekurangan atau kehilangan. Hatinya lapang, pikirannya terbuka.Oleh karenanya, orang dermawan adalah orang berani yang mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan menegakkan Dinullah.

Juli 18, 2008 Ditulis oleh paf76 | Uncategorized | | No Comments Yet

Soichiro Honda ” Lihat Kegagalan Saya”

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi… Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya

lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang  meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia  juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat  berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin  menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun,  Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.  

Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara  kerjanya. Honda teliti dan  cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah  wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi  yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.

Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam  goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang  pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis

apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang  dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938.

Sayang, karyanya   itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring  buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Kuliah  Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius.  Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin  bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang  baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya  dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi  makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hokum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan.

Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibahdatang.

Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga.  Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. 

Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk  ndonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa  diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

 

= = = = = = = = = = =

 

5 Resep keberhasilan Honda :

 

1.      Selalulah berambisi dan berjiwa muda.

2.      Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.

3.      Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.

4.      Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.

5.      Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Juli 18, 2008 Ditulis oleh paf76 | Uncategorized | | No Comments Yet

Harga Sebuah Kesibukan

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang

Di MILIKI nya sampai akhirnya …..

 

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak

cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap

dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang

akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not thebest,” katanya selalu,

mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya.

Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

 

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai stafdiplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD.

Lengkaplah kebahagiaan mereka.

Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya.

Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang

pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu,berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu

negara ke negara lain.

Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayangnya itu,

tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar,tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif,  berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu , Rani dan suaminya meminta pengertian anaknya.

Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. dengan polosnya  bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya.

Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik.

Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek.

Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Bahkan,…..tutur Rani, Alif selalu  menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.

Maka, Rani menyapanya  ”malaikat kecilku ”

 

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.

Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.

Diam-diam, saya iri pada keluarga ini

Setulusnya saya pernah bertanya,

”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?”

Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala

 

sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.

 

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.

”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap.

Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.

Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan

keperluan kantornya.

Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!”

Kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh,

Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian.

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

 

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter,

”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang.

Sekarang di Emergency.”

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.

Allah swt sudah punya rencana lain.

Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya.

Ia shock berat.

Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.

Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen

untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku.

”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi.

Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.

Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan.

Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?”

Saya diam saja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari oranglain.

Suaminya mematung seperti tak bernyawa.

Wajahnya pias, tatapannya kosong.

”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.

Hening sejenak.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat.

Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,lebih-lebih tangisan yang meledak.

”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif.

Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif.

Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba.

Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya.

Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif.

 

Senja pun makin tua.

– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.

– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat

    sangat.

– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asyik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak

    mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Kan masih ada waktu ‘nanti’ buat  

    mereka jadi abaikansaja dulu.

– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang

    diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menya-.

    menyayanginya dan tetap akan ada.

Juli 18, 2008 Ditulis oleh paf76 | Uncategorized | | No Comments Yet